Anak-anak Palestina mengibarkan spanduk yang mengecam pengepungan Israel di wilayahnya, dan mendesak Israel membuka perlintasan Gaza.
Anak-anak Palestina juga meminta akses air minum bersih, listrik dan fasilitas kesehatan yang layak, dalam kampanye yang diusung Koalisi Badan Amal Palestina, bertajuk "Save Gaza".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterpurukan ekonomi di Jalur Gaza kian parah akibat perpecahan internal antara Hamas yang menguasai Gaza sejak 2007, dan Fatah, pemerintah Palestina di Ramallah, Tepi Barat.
Sejumlah pegawai perusahaan kebersihan di Jalur Gaza berencana menggelar aksi protes karena belum menerima gaji selama empat bulan.
Ada sebanyak 800 pekerja kebersihan di berbagai rumah sakit di Jalur Gaza.
"Saya tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga saya, dengan delapan anggota, karena gaji yang belum dibayarkan selama berbulan-bulan belakangan," kata Anam at-Taweel, seorang pekerja kebersihan di Jalur Gaza, kepada Xinhua.
Rumah Sakit Berhenti Beroperasi
Sementara itu, tiga rumah sakit dan 10 pusat medis di Jalur Gaza telah menghentikan layanan akibat kehabisan bahan bakar, kata Kementerian Kesehatan Palestina.
Rumah sakit di Jalur Gaza memerlukan 450.000 liter bahan bakar per bulan untuk mengoperasikan generator pembangkit listrik mereka.
Ashraf Al-Qedra, Juru Bicara bagi Kementerian Kesehatan Palestina, mengkonfirmasi kepada Xinhua bahwa rumah sakit itu telah menghentikan semua pengobatan dan pasien dipindahkan ke instalasi kesehatan lain di daerah kantung tersebut.
"Empat-puluh-lima persen obat dasar dan pasokan medis habis di instalasi kementerian itu dan 58 persen pasokan laboratorium serta bank darah telah habis," tambah Al-Qedra.
Dia memperingatkan konsekuensi besar yang harus ditanggung sektor kesehatan akibat krisis bahan bakar terhadap pasien di Jalur Gaza.
Sebanyak 13 rumah sakit dan 54 klinik kesehatan dasar yang dikelola Kementerian Kesehatan Palestina, menganggung tak kurang dari 95 persen layanan kesehatan di Jalur Gaza.
Saat ini, 120 megawatts listrik di Jalur Gaza dipasok Israel sementara Mesir menyediakan 43 megawatts.
(nat)