Menlu ASEAN Bahas Proposal Indonesia soal Indo-Pasifik

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 07/02/2018 12:51 WIB
Menlu ASEAN Bahas Proposal Indonesia soal Indo-Pasifik ASEAN Foreign Ministers Retreat (AMM Retreat) di Singapura (6/02). (Ist/Kemlu RI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para menteri luar negeri Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) membahas proposal Indonesia tentang Indo-Pasifik.

Tanpa menyebut istilah Indo-Pasifik, pernyataan ketua (Chairman Statement) menyebut gagasan Indonesia "untuk mendorong arsitektur regional yang terbuka dan transparan, berdasarkan hukum internasional serta prinsip-prinsip yang terkandung dalam Traktat Kerja Sama dan Pertahanan Asia Tenggara (TAC), serta sejalan dengan Prinsip Bali yang dihasilkan Konferensi Asia Timur."

"Para menlu mengingat hubungan ASEAN dengan mitra eksternalnya dan membahas bagaimana ASEAN dapat mempertahankan perdamaian dan stabilitas kawasan dan sekitarnya," demikian pernyataan Singapura sebagai Ketua ASEAN seperti dilansir dalam situs Kementerian Luar Negeri, Selasa (6/2).


Pertemuan para menlu ASEAN di Singapura, Selasa (6/2) mengawali kegiatan ASEAN. ASEAN Foreign Ministers Retreat (AMM Retreat) membahas program kerja prioritas ASEAN pada 2018. Sebagai Ketua ASEAN, Singapura menetapkan tema "ASEAN yang Tangguh dan Inovatif."

Selain menyoroti tantangan terhadap perdamaian dan demokrasi di kawasan, dalam pertemuan tersebut Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan bahwa kawasan Indo-Pasifik telah menjadi kawasan yang strategis dalam pembangunan ekonomi dan keamanan dunia.

Menlu RI mendorong agar ASEAN mengambil langkah untuk berkontribusi membangun arsitektur kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, transparan, dan inklusif berdasakan hukum internasional. Kerja sama yang mengedepankan dialog dalam menjaga perdamaian dan stabilitas.

"Menjadi penonton dan berdiam diri bukanlah opsi bagi ASEAN dalam menanggapi berbagai tantangan dan peluang di kawasan Indo-Pasifik," kata Menlu Retno dalam rilis Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (6/2).

Dalam konteks ini, para Menlu ASEAN menyepakati usul Indonesia untuk melaksanakan pertemuan 1,5 track guna mengembangkan konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik.

"Di tengah perubahan geo-politik dan geo-ekonomi serta dinamika di kawasan Indo-Pasifik, ASEAN harus terus berkontribusi dan berinovasi, serta terus berinteraksi dengan dunia guna tetap menunjukan sentralitasnya," kata Menlu Retno.

Dalam sebuah artikel opini di Straits Times, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa juga mendorong ASEAN untuk meningkatkan kawasan Indo-Pasifik yang damai.

Mengawali tulisannya, Marty mempertanyakan bahwa gagasan untuk menghidupkan kembali kawasan Asia Pasifik, dengan istilah Indo-Pasifik, yang secara strategis dibatasi India di sebelah Barat, Amerika Serikat di Timur dan Jepang di Utara menimbulkan risiko bagi Asia Tenggara dan ASEAN.

Gagasan itu mirip pendekatan yang disimpulkan dari lawatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang memilih istilah Indo-Pasifik, ketimbang Asia-Pasifik yang digunakan pemerintahan AS sebelumnya.

Beberapa pengamat menilai istilah Indo-Pasifik mewakili pendekatan baru untuk mengelola atau membendung kebangkitan China.

Gagasan ini pernah diutarakan Marty pada saat menjadi Menlu RI pada Mei 2013. Dia membuat sebuah pendekatan Indo-Pasifik di ASEAN saat berbicara di Pusat Kajian Strategis dan Internasional di Washington. Secara khusus, ide itu adalah perluasan dari TAC yang berkomitmen untuk tidak menggunakan kekuatan dalam penyelesaian sengketa.

Marty juga berpandangan perluasan KTT Asia Timur, yang mencerminkan pandangan Indo-Pasifik akan memberikan kesempatan bagi ASEAN untuk mempertahankan sentralitasnya baik secara geografis maupun lebih luas lagi secara geopolitik dalam arsitektur keamanan yang berkembang di kawasan. Juga merupakan perkembangan alami ASEAN yang mengalami perluasan Asia Timur, Asia Pasifk dan Indopasifik.

Namun yang terpenting adalah pentingnya pandangan yang menekankan prinsip keamanan dan perdamaian bersama, untuk menentang kebijakan mirip Aliansi Perang Dingin atau membendung kebangkitan sebuah kekuatan. "Dulu saya menggunakan istilah "dynamic equilibrium" untuk menggambarkan perspektif tersebut," kata Marty dalam tulisannya yang dilansir Strait Times 30 November lalu tersebut.

Dia menyayangkan gagasan ini diangkat di saat pemerintah Trump mempromosikan konsep Indo-Pasifik. Terutama karena ASEAN dan KTT Asia Timur secara resmi telah mengakui pentingnya Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) Indo-Pasifik pada 2013-2014.

Sebuah TAC bagi kawasan Indo-Pasifik sangat penting untuk menanamkan kawasan Indo-Pasifik dengan dinamika 'win-win', seperti dampak transformasi positif dari ASEAN dari kawasan yang dikuasai konflik di Asia.

"Saat ini Amerika Serikat telah memilih untuk mengadopsi perspektif Indo-Pasifik. Dengan ketiadaan visi geopolitik alternatif Asean, apapun itu, kita mungkin belum melihat injeksi politik kekuasaan ala Perang Dingin ke kawasan Pasifik, dengan kemungkinan dampak negatif yang mungkin timbul pada ASEAN," tulis Marty.

Meski begitu, Marty juga melihat peluang untuk mengubah dinamika antar bangsa secara positif, untuk secara proaktif memanfaatkan peluang yang ada, menetapkan norma-norma baru dalam hubungan antar negara untuk meningkatkan perdamaian dan memanfaatkan kepentingan semua negara dalam keamanan bersama. (nat)