Qatar, Uni Emirat Arab Sumbang Dana Buat Jalur Gaza

Natalia Santi, CNN Indonesia | Jumat, 09/02/2018 22:16 WIB
Qatar, Uni Emirat Arab Sumbang Dana Buat Jalur Gaza Pengungsi Palestina di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) berterima kasih kepada Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memberikan sumbangan dana bagi Jalur Gaza, Palestina, Kamis (8/2).

Sumbangan itu diberikan setelah PBB memperingatkan krisis energi yang akut di wilayah Palestina yang dikepung Israel.

"Bahan bakar bagi fasilitas penting di Gaza akan habis dalam 10 hari mendatang," kata Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA) dalam pernyataan tertulisnya seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu, Jumat (9/2).


PBB menyatakan Qatar menyumbang US$9 juta (sekitar Rp128,5 miliar) dan UEA menyumbang Us$2 juta (sekitar Rp28,5 miliar) untuk kesehatan, air dan layanan sanitasi warga Gaza.

Dalam pernyataan tertulis sebelumnya, Mohammed Al-Emadi, Kepala Komite Rekonstruksi Gaza Qatar mengumumkan bahwa Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menginstruksikan bantuan darurat bagi Gaza senilai US$9 juta.

Selama beberapa tahun terakhir, Qatar melaksanakan sejumlah proyek rekonstruksi di Gaza, termasuk membangun jalan dan rumah-rumah sakit.

Secara terpisah, UEA juga mengumumkan donasi sebesar US$2 juta untuk program pengadaan bahan bakar OCHA di Gaza.

Kantor Badan PBB mengatakan perlu US$6,5 juta untuk menyediakan 7,7 juta liter bahan bakar darurat di Gaza pada 2018. "Ini adalah jumlah minimum untuk mempertahan agar layanan tidak terganggu," kata PBB.

Jalur Gaza yang berpenduduk dua juta orang mengalami kesulitan listrik sejak diblokade Israel pada 2006.

Krisis energi listrik menyebabkan gangguan layanan beberapa rumah sakit. Sejumlah di antaranya menghentikan layanan pasien dalam beberapa hari terakhir.

OCHA memperkirakan 1,4 juta liter bahan bakar diperlukan tiap bulannya untuk menghidupkan sejumlah fasilitas penting di Gaza.

Meski Jalur Gaza memerlukan sedikitnya 600 megawatt listrik, saat ini hanya menerima 120 megawatt  dari Israel dan 32 megawatts dari Mesir.

Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza hanya mampu menghasilkan 60 megawatt listrik.

Kondisi Gaza kian sulit setelah pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk menangguhkan dana US$65 dari US$125 juta yang dijanjikan bagi badan pengungsi Palestina (UNRWA). Keputusan itu diambil pasca keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, yang membuat marah warga Palestina. Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya jika merdeka dari Israel, yang mengklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya saat ini.

(nat)