Jet Tempur Israel Bombardir Gaza, Dua Warga Palestina Terluka

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 18/02/2018 06:16 WIB
Jet Tempur Israel Bombardir Gaza, Dua Warga Palestina Terluka Konflik di Jalur Gaza kembali terjadi setelah ledakan yang melukai dua tentara Israel pada Sabtu (17/2). (AFP PHOTO / ABBAS MOMANI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jet-jet tempur Israel memborbardir Jalur Gaza menyebabkan dua warga Palestina terluka pada Sabtu (17/2). Serangan Israel dilakukan setelah empat tentaranya terluka akibat ledakan di wilayah perbatasan tersebut.

Ledakan di wilayah yang dikuasai Hamas itu terjadi pada Sabtu, mengakibatkan dua tentara Israel terluka parah dan tercatat sebagai insiden perbatasan paling serius sejak pertempuran Israel dan Hamas pada 2014 lalu.

Sebagai respons atas ledakan itu, otoritas militer Israel mengatakan pesawat tempur mereka menetapkan enam target yang dikuasai Hamas, termasuk sebuah terowongan di Zaytun dan kompleks militer di Deir el-Balah dan Khan Yunis.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah berada dalam sebuah forum keamanan di Munich, Jerman, menyebut insiden di Jalur Gaza tersebut sebagai seseuatu yang serius dan berjanji meresponsnya dengan tepat.

Pihak keamanan di Palestina mengatakan bahwa serangan udara Israel mengenai tiga basis milik Hamas di bagian Timur Gaza. Sementara otoritas medis Palestina menyebut dua warga terluka akibat serangan itu.

Juru bicara militer Israel Jonathan Conricus mengatakan kelompok teroris telah mengklaim bertanggungjawab atas ledakan yang melukai tentara Israel. Kelompok yang dimaksud diduga kuat merujuk pada kelompok Islam radikal berhaluan Salafi yang ada di Gaza. 

"Tetapi dari sudut pandang kami Hamas adalah pihak yang bertanggungjawab," kata dia, seperti dilansir AFP.

Israel dan Hamas telah tiga kali berperang sejak 2008 dengan perang terakhir terjadi pada 2014.

Pada awal Februari, pesawat tempur Israel dilaporkan menyerang sejumlah target milik Hamas setelah menuduh warga Palestina di Gaza meluncurkan roket ke negara Yahudi tersebut. Padahal, mengutip AFP,  serangan dengan roket biasanya tidak berasal dari Hamas, melainkan dari kelompok radikal lain.

Ketegangan antara Israel dan Palestina kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Desember tahun lalu. (wis)