Cuaca Buruk Hambat Pencarian Lokasi Kecelakaan Pesawat Iran

Natalia Santi & Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 19/02/2018 16:08 WIB
Cuaca Buruk Hambat Pencarian Lokasi Kecelakaan Pesawat Iran Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran kembali melakukan pencarian setelah sempat menunda operasi pencarian pesawat berpenumpang 66 orang yang mengalami kecelakaan di Pegunungan Zagros karena cuaca tak memungkinkan akibat badai salju dan angin kencang.

"Lima unit memulai operasi pencarian sejak pagi, suhu minus 16 (derajat Celcius)," kata petugas Bulan Sabit Merah seperti dikutip kantor berita IRNA, Senin (19/2).

Pesawat pengintai nirawak (drone) militer juga dikerahkan untuk melakukan pencarian.


Sebelumnya, angin yang semakin kencang, juga salju, hujan dan gelap, menghambat tim penyelamat mencapai ketinggian, Minggu (18/2).

Palang Merah menyatakan bahwa 45 tim sudah diterjunkan ke Gungung Dena, tapi tak membuahkan hasil karena berbagai halangan, termasuk cuaca.

"Pegunungan itu tak mungkin dilewati. Kabut tebal dan salju dan hujan membuat helikopter tak bisa lewat," ujar kepala tim penyelamat, Morteza Salimi, kepada AFP, Minggu (18/2).
Namun, IRIB memastikan bahwa lima helikopter tetap disiagakan untuk langsung melanjutkan operasi pencarian begitu kondisi cuaca memungkinkan.

Pesawat maskapai Aseman Airlines penerbangan EP3704 itu menghilang dari radar 45 menit setelah lepas landas dari Teheran menuju Yasuj pukul 08.00 waktu setempat.

Tak lama setelah kabar itu tersebar, anggota keluarga dari para penumpang langsung berkumpul di sebuah masjid di dekat Bandara Mehrabad.

"Sangat sulit bagi saya untuk mempercayai ini semua," ujar seorang perempuan yang suaminya berada di dalam pesawat tersebut.
Di samping ibu itu, berdiri seorang pria yang batal naik pesawat nahas tersebut. Ia mengaku merasakan emosi campur aduk, antara lega dan sedih.

Sambil memegang tiketnya yang tak terpakai, pria tersebut mengatakan kepada portal berita Tabnak, "Tuhan sangat baik kepada saya, tapi saya juga sangat sedih bagi mereka yang kehilangan nyawanya."

Presiden Hassan Rouhani langsung menginstruksikan kementerian transportasi untuk membuat grup krisis yang bertugas menyelidiki kecelakaan tersebut.
Hingga saat ini, aparat belum mengonfirmasi kemungkinan kecelakaan pesawat. Namun, akibat sanksi selama berpuluh tahun, Iran kesulitan mengembangkan dan melakukan modernisasi terhadap sistem penerbangan mereka.

Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Aseman sendiri memiliki setidaknya tiga pesawat jenis ATR-72 yang diproduksi di era awal 1980-an.

Iran pun tak jarang dilanda musibah penerbangan, salah satunya pada 2014, ketika 39 orang tewas akibat kecelakaan pesawat Sepahan Airlines tak lama setelah lepas landas dari Teheran.

[Gambas:Video CNN] (nat)