Ketua Pemberontak: ISIS Terdesak, Perang Marawi Bisa Terulang

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 20/02/2018 20:50 WIB
Ketua Pemberontak: ISIS Terdesak, Perang Marawi Bisa Terulang Murad Ebrahim, ketua kelompok pemberontak di Filipina, MILF, memperingatkan perang Marawi dapat terulang seiring gelombang kepulangan militan ISIS yang terdesak di Timur Tengah. (Dok. Marconi Navales)
Jakarta, CNN Indonesia -- Murad Ebrahim, ketua kelompok pemberontak terbesar di Filipina, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), memperingatkan bahwa perang Marawi tahun lalu dapat terulang seiring gelombang kepulangan militan ISIS yang mulai terdesak di Timur Tengah.

"ISIS terus melakukan penetrasi ke sini karena mereka mulai terdesak di Timur Tengah dan mereka ingin tempat lain. Kemungkinan ada kejadian Marawi lainnya tak dapat dimungkiri," ujar Ebrahim, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (20/2).

Ebrahim mengatakan bahwa peluang itu semakin besar karena kini, para simpatisan ISIS di Filipina diperkirakan memiliki banyak amunisi dari hasil jarahan ketika mereka menguasai Marawi selama lima bulan pada tahun lalu.
Sebelum dilibas habis oleh pasukan pemerintah pada Okgober lalu, kelompok militan yang berbaiat kepada ISIS, Maute, berhasil menjarah amunisi, uang tunai, dan perhiasan dari rumah warga, termasuk anggota MILF.


"Ketika mereka kabur dari Marawi, mereka tak bisa membawa harta mereka. Saat itu lah ISIS bisa mendapatkan banyak uang dan sekarang mereka menggunakannya untuk perekrutan," tutur Ebrahim.

Meski demikian, Ebrahim memastikan bahwa MILF yang kini sedang dalam proses perundingan damai dengan pemerintah, akan membantu mencegah kebangkitan ISIS di Filipina dengan menutup akses paham ekstremis ke madrasah dan sekolah.
Namun, ia meminta pemerintah segera meloloskan hukum yang mengukuhkan hasil perundingan damai dengan MILF. Jika tidak, paham ekstremis dapat lebih mudah tersebar karena Muslim mulai kehilangan harapan akan perdamaian.

"Jika hukum itu tidak segera diloloskan, saya rasa perkembangan situasi di mana kelompok ekstremis lebih mudah merekrut akan lebih besar, karena itu akan membuktikan teori bahwa tak ada harapan perundingan damai," katanya.

Menutup pernyataannya, Ebrahim berkata, "Karena mereka juga memiliki kemampuan untuk menggalang dana dan membuat bahan peledak, bom, mereka bisa merekrut anggota muda untuk menjalankan aksi." (has/has)