Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris menyebut ini merupakan peristiwa 48 jam dengan jumlah korban paling tinggi sejak serangan kimia di kawasan benteng pemberontak ini terjadi pada 2013 lalu.
Gelombang serangan udara, tembakan roket dan artileri memicu kecaman internasional. Perancis, anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebut pengeboman itu sebagai pelanggaran serius hukum kemanusiaan internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diberitakan Reuters, Observatory menyatakan pengeboman itu menewaskan 106 orang dewasa dan anak-anak di timur Ghouta hanya dalam satu hari, Selasa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert menyatakan Washington "sangat prihatin" atas peningkatan kekerasan di Ghouta. "Taktik pengepungan dan kelaparan paksa rezim Assad ... menambah bencana kemanusiaan di sana," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Nauert mengatakan Amerika Serikat mendukung seruan PBB untuk melakukan gencatan senjata selama sebulan untuk memungkinkan pengiriman bantuan dan evakuasi darurat warga sipil. Dia mendorong Rusia untuk berhenti mendukung pemerintah Assad.
Di Brussels, pemimpin oposisi Suriah Nasr al-Hariri, kepala delegasi di pembicaraan damai PBB yang mandek, memohon masyarakat internasional untuk memberikan tekanan lebih keras.
Lihat juga:Pengeboman di Suriah Tewaskan 77 Warga Sipil |
Korban tewas sejak kekerasan meningkat pada Minggu termasuk 58 anak-anak. Sebanyak 1.200 orang lainnya terluka akibat hujan bom Suriah, kata Observatory.
(aal)