Warga Kamerun Dilarang Menyetir Malam Sebulan

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 03/03/2018 21:53 WIB
Warga Kamerun Dilarang Menyetir Malam Sebulan Ilustrasi kehidupan masyarakat Kamerun sehari-hari. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pengemudi di salah satu provinsi di Kamerun yang penduduknya mayoritas berbahasa Inggris, dilarang mengendarai kendaraan selama sebulan setelah meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan kelompok separatis.

Pada lima dari enam distrik di area Barat Daya, kendaraan juga tidak diperbolehkan melintas pada pukul tujuh malam hingga enam pagi. Pengecualian untuk ambulans, mobil polisi, serta mobil pejabat pemerintah, demikian rilis pemerintah setempat yang dilihat oleh AFP.

Larangan yang dimulai pada awal bulan ini akan berlangsung selama 30 hari, demikian dinyatakan gubernur setempat, Bernard Okalia Bilai.


Desakan kemerdekaan dari negara yang mayoritas penduduknya berbahasa Perancis itu telah menimbulkan keresahan pada dua provinsi, yang memiliki seperlima dari total 23 juta penduduk Kamerun

Penduduk berbahasa Inggris di dua provinsi itu merupakan minoritas dan warisan dari periode penjajahan di Afrika.

Desakan kemerdekaan itu muncul karena ada anggapan diskrimasi oleh penduduk mayoritas.

Di area Barat Daya, belasan orang terbunuh sementara puluhan ribu lainnya mengungsi ke Nigeria setelah gelombang protes anti-pemerintah.

Situasi ini memburuk di akhir Januari, ketika 47 anggota kelompok separatis, termasuk di antaranya seorang pemimpin bernama Sisiku Ayuk Tabe, ditangkap di Nigeria dan kemudian dikirim pulang ke Kamerun. Gelombang protes pun kembali menggelora.

Selain menargetkan polisi dan prajurit, kelompok separatis pun disebut menculik serta mengancam firma-firma yang berlokasi di area yang penduduknya berbahasa Inggris.

Presiden Kamerun, Paul Biya, merespons aksi kekerasan ini dengan menerapkan jam malam, pengawasan ketat, serta pembatasan perjalanan.

Pengamat mengingatkan bahwa krisis ini bisa mengganggu pemilihan umum, termasuk di antaranya pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 2018. (vws)