Kemiskinan Buat Banyak Perempuan Afrika Gabung Boko Haram

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 05/12/2016 11:58 WIB
Kemiskinan Buat Banyak Perempuan Afrika Gabung Boko Haram Pemerintah yang gagal menjamin pemenuhan hak perempuan di negara timur laut Afrika memicu sejumlah wanita lebih memilih bergabung dengan kelompok Boko Haram. (Reuters/Social Media)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur kawasan Afrika Barat International Crisis Group (ICG) Rinaldo Depagne menyebut kegagalan pemerintah menjamin keamanan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Afrika barat mendorong sejumlah warganya, khususnya perempuan, untuk memutuskan bergabung dengan kelompok ekstrimis seperti kelompok Boko Haram.

Berdasarkan laporan ICG, sejumlah wanita yang mayoritas beragama Muslim di bagian barat Afrika, seperti Nigeria, merasa frustasi dengan kemiskinan, diskriminasi, dan patriarki mengakar di negara mereka.

Keadaan itu mendorong mereka secara sukarela mau bergabung dengan Boko Haram dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik.


"Bagi beberapa wanita yang terjebak dalam kehidupan domestik dan rumah tangga, Boko Haram menawarkan pelarian bagi mereka," ungkap Depagne seperti dikutip Reuters, Senin (6/12) di Senegal.

"Ini mencerminkan jurang keputusasaan yang besar di kalangan perempuan dan kegagalan masyarakat di bagian timur laut Nigeria," ujar analis tersebut.

Dalam hal kemiskinan dan diskriminasi terhadap hak perempuan, Nigeria menjadi wilayah yang dinilai paling memprihatinkan. Tingkat pernikahan anak, pendidikan di kalangan perempuan dan peran serta kedudukan mereka di Nigeria dinilai masih buruk jika dibandingkan dengan negara tetangganya.

Banyak perempuan yang menjadi korban pemberontakan rela menjajakan dirinya sebagai budak seks hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
 
Belum lagi, tak sedikit pula anak perempuan dan wanita korban sandera kelompok Boko Haramyang dijadikan sebagai buruh hingga budak seks. Para perempuan korban pemerkosaan anggota Boko Haram itu kerap mendapat penolakan dari warga dan lingkungan sekitar.

Walau demikian, laporan yang diterbitkan pada Oktober lalu ini menyebutkan, Boko Haram masih jauh lebih baik dalam memperlakukan dan menganggap peran perempuan jika mereka bergabung sebagai anggotanya. Sebagai pejuang, perempuan diperlakukan hampir setara dengan laki-laki. Tak jarang wanita dikerahkan sebagai perekrut dan anggota intel dalam kelompok tersebut. Kaum perempuan sering mengambil posisi senior di keanggotaan Boko Haram.

Depagne berujar, pemerintah dan masyarakat sipil diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi kaum perempuan serta pemulihan bagi para korban maupun mantan anggota Boko Haram. Pemerintah harus memastikan bahwa perempuan di negara mereka berperan dalam membangun kembali negara-negara di bagian timur laut Afrika.

"Pengucilan dan kekerasan terhadap wanita dapat menggambarkan gagalnya kekuatan militer untuk menjaga hak-hak warganya sehingga mendorong mereka untuk bergabung dengan Boko Haram," kata Depagne.

Boko Haram muncul sejak 2002 lalu yang berbasis di Nigeria, Chad, Niger, dan Kamerun. Kelompok militan ini telah menewaskan setidaknya 15 ribu orang dan menyebabkan 2,6 juta melarikan diri menjadi pengungsi di negara-negara tersebut dalam menjalankan misinya untuk mendirikan sebuah negara kekhalifahan Islam.


(aal)