Ganggu Belajar, Madrasah di Bangladesh Bakar Ribuan Ponsel

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 07/03/2018 15:20 WIB
Ganggu Belajar, Madrasah di Bangladesh Bakar Ribuan Ponsel Ilustrasi. (Freestocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah madrasah di Bangladesh menyita lalu membakar ribuan ponsel milik siswa karena dianggap mengganggu konsentrasi belajar di kelas.

Murid-murid di sekolah agama atau madrasah Darul Ulum Moinul Islam diperintahkan menyerahkan ponsel yang mereka bawa kepada pihak sekolah.

Madrasah yang terletak di Hathazari, Chittagong, itu lalu membakar ribuan perangkat elektronik tersebut di lapangan dekat gedung sekolah.


"Perangkat-perangkat elektronik ini merusak karakter siswa. Para murid bermain internet melalui ponsel mereka hingga larut malam. Keesokan harinya mengantuk dan tertidur saat belajar di kelas. Banyak orang tua murid yang khawatir," kata juru bicara madrasah, Azizul Hoque, Selasa (6/3).

Meski begitu, Azizul menegaskan madrasahnya yang kini mendidik lebih dari 14 ribu siswa itu tidak menentang kemajuan teknologi informasi.
Hanya saja, menurutnya, dampak negatif penggunaan ponsel pada siswa jauh lebih banyak dari dampak positif yang dihasilkan.

"Kami juga dibanjiri surat-surat yang meminta fatwa untuk melarang penggunaan ponsel karena banyak keluhan yang muncul dan menganggap ponsel marak digunakan untuk selingkuh," kata Azizul.

Madrasah Darul Ulum Moinul Islam dipimpin oleh Ahmad Shafi, yang merupakan pemimpin kelompok Islam garis keras, Hefazat-e-Islam.

Walaupun Bangladesh selama ini dikenal sebagai negara sekuler, nasihat atau fatwa ulama-ulama cukup berpengaruh besar di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu, terutama di daerah pedesaan.


Gerakan melarang penggunaan ponsel bahkan telah berkembang menjadi kekuatan politik dalam beberapa tahun terakhir dan cukup mengejutkan pemerintah.

Kampanye tersebut turut memicu konflik antara pemuka agama dan pemerintah sekuler di negara berpenduduk 160 juta jiwa itu. Mayoritas penduduk Bangladesh merupakan Muslim.

Pada 2013 lalu, dikutip AFP, ratusan ribu pendukung Hefazat turun ke jalanan Ibu Kota Dhaka menuntut penerapan undang-undang agama, termasuk mengkriminalisasi penghina dan penista agama.

Protes tersebut memicu kekerasan antara pendemo dan aparat keamanan hingga menewaskan 50 orang. Kalangan muslim konservatif di Bangladesh juga menuntut pemisahan tempat kerja berdasarkan gender.

[Gambas:Video CNN]

(nat)