Kasus Racun di Inggris, Islandia Boikot Pembukaan Piala Dunia

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 28/03/2018 16:53 WIB
Kasus Racun di Inggris, Islandia Boikot Pembukaan Piala Dunia Pemimpin Islandia tidak akan hadir di pembukaan Piala Dunia 2018 di Rusia Juni nanti sebagai respons atas kasus peracunan eks-agen di Inggris. (Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Islandia memutuskan tidak akan hadir dalam pembukaan Piala Dunia 2018 di Rusia Juni nanti sebagai respons atas kasus peracunan eks mata-mata, Sergei Skripal di Inggris, awal Maret lalu.

Padahal, tim nasional Islandia untuk pertama kalinya berkompetisi di gelaran sepak bola paling bergengsi di dunia itu setelah 12 kali gagal di babak kualifikasi.

"Menunda sementara seluruh dialog bilateral tingkat tinggi dengan pemerintah Rusia merupakan salah satu tindakan yang diambil Islandia terkait kasus ini. Akibatnya, para pemimpin Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia musim panas nanti," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Islandia, Rabu (28/3).


Serangan racun terhadap Skripal dan Putrinya, Yulia, berbuntut panjang. Keduanya ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury pada 4 Maret lalu.

Inggris memastikan bahwa Skripal dan Yulia terpapar racun saraf Novichok, senjata kimia yang dikembangkan oleh militer Uni Soviet.

Inggris dan sebagian besar negara Barat seperti Uni Eropa menuding Kremlin berada dibalik insiden tersebut. Meski belum ada bukti soal keterlibatan langsung pemerintah Rusia dalam kasus tersebut.

Dikutip AFP, Ibu Kota Reykjavik juga mendesak Moskow segera memberikan "jawaban yang jelas" terkait kasus racun tersebut.

Islandia menganggap serangan racun di Salisbury merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Insiden itu juga dianggap mengancam keamanan dan perdamaian di Eropa.

Selain Islandia, pertengahan bulan ini Inggris juga mengumumkan bahwa keluarga kerajaan dan para menterinya tidak akan menghadiri gelaran Piala Dunia di Rusia.

Inggris bahkan telah mengusir 23 diplomat Rusia dari negaranya sebagai "konsekuensi" atas kasus Skripal. Langkah itu diikuti oleh setidaknya 22 negara Uni Eropa dan negara di luar blok regional itu sebagai bentuk solidaritas terhadap Inggris.

(nat)