Usai pertemuan tingkat tinggi di Ankara, Rabu (4/4), ketiga negara menyatakan bertekad "mempercepat upaya memastikan ketenangan di lapangan" di Suriah.
Meski tidak mengurangi kekerasan yang terjadi, keputusan kerja sama itu menunjukkan perkembangan peran sentral ketiga negara, sementara keberadaan AS di Suriah semakin dipertanyakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan perkembangan Suriah, di mana tentara dan sekutunya terus memukul mundur pemberontak dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan AS "gagal menggulingkan" pemerintahan Bashar al-Assad.
"Mereka ingin mengembangkan rasa tidak aman untuk mempertahankan kepentingan mereka, tapi mereka tidak berhasil," kata Rouhani dalam konferensi pers setelah berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia juga meyakini pasukan AS akan tetap berada di Suriah.
Turki melakukan operasi militer untuk mengusir pasukan YPG Kurdi dari Afrin, Barat Laut Suriah, sementara serangan udara Rusia dan kelompok bersenjata sokongan Iran mendukung serangan tentara Suriah di Idlib dan Ghouta.
(aal)