Pemenjaraan Lula, presiden pertama Brasil dari kelas pekerja, membuat pemilihan umum Oktober ini terbuka lebar. Dia adalah tokoh yang disurvei sebagai calon kuat pemenang, tapi vonis kemungkinan membuatnya tak bisa bersaing.
Pekan ini, Mahkamah Agung mungkin meninjau kembali putusannya pada 2016 yang menyatakan terpidana bisa memulai masa hukuman jika vonisnya dipertahankan dalam banding pertama. Putusan itulah yang membuat hakim memerintahkan ia dipenjara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses banding bisa memakan waktu bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade dalam sistem hukum Brasil yang rumit, secara tak langsung memberikan imunitas untuk pihak yang cukup kaya untuk membayar pengacara dan terus mengajukan pembelaan.
Masih dihadapkan pada enam sidang lain terkait korupsi, Lula menyerahkan diri kepada polisi pada Sabtu malam dan mengakhiri ketegangan yang beralngsung seharian.
Lewat televisi, warga Brasil menyaksikan gambar konvoi SUV polisi mengawal Lula ke helikopter dan jet di bandara Sao Paulo. Dari sana, dia terbang ke Curitiba untuk menjalani masa hukuman.
Lula tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang lain yang ditahan di gedung tersebu, termasuk mantan menteri keuangannya, Antonia Palocci.
"Semangatnya cukup kuat untuk bertahan dan dia yakin warga Brasil akan terus bergerak untuk kebebasannya," kata Paulo Teixeira, anggota Kongres dari Partai Pekerja yang mewakili Sao Paulo.
Dia mengatakan penolakan Mahkamah Agung atas permohonan Lula untuk tak dipenjara hingga kehabisan upaya banding merupakan sesuatu yang sangat disayangkan dan dia memperkirakan protes akan terus terjadi untuk mendukung mantan Presiden.
Warga Brasil, baik mendukung pemenjaraan Lula atau tidak, secara umum meyakini bahwa para penguasa negaranya adalah orang-orang korup. Survei pada bulan lalu dari Datafolha menunjukkan lebih dari 80 persen responden meyakini Lula tahu soal korupsi di pemerintahan, meski hanya 50 persen yang ingin melihat dia dijebloskan ke penjara.
(aal)