FOTO: Melihat Umat Katolik di Negeri Komunis China

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 11/04/2018 17:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Memilih gereja bisa sangat sulit di bawah pemerintahan Partai Komunis yang secara resmi menganut ateisme, terutama bagi ribuan penganut Katolik di desa Youtong.

Memilih gereja bisa sangat sulit di bawah pemerintahan Partai Komunis yang secara resmi menganut ateisme. (REUTERS/Damir Sagolj)
Hal itu berlaku terutama untuk warga desa Youtong, di mana separuh dari 5.000 penduduknya penganut Katolik. (REUTERS/Damir Sagolj)
Dalam radius kurang dari 2 kilometer, desa di Hebei mendirikan satu gereja yang diizinkan pemerintah, dua gereja
Youtong menggambarkan situasi rumit bagi 12 juta Katolik di China, di mana para penganutnya terbelah antara gereja pemerintah dan gereja bawah tanah yang didukung Vatikan. (REUTERS/Damir Sagolj)
Gereja bawah tanah secara umum ditolerir, meski diawasi ketat oleh pihak berwenang. (REUTERS/Damir Sagolj)
Sementara gereja rumahan biasanya diabaikan selama hanya menggelar ibadah kecil-kecilan. (REUTERS/Damir Sagolj SEARCH)
Saat Jumat Agung, warga Youtong terang-terang menunjukkan keyakinannya. (REUTERS/Damir Sagolj)
Para penduduk turun ke jalan untuk menghadiri misa sore di gereja resmi yang berhias salib besar. (REUTERS/Damir Sagolj)
Sementara sejumlah warga Katolik mengatakan telah lama menantikan kesepakatan negara dengan Vatikan, yang lainnya khawatir langkah itu bisa memicu perpecahan lebih parah. (REUTERS/Damir Sagolj)
Perjanjian itu memungkinkan China menunjuk uskup dengan berkonsultasi dengan Vatikan, dan memungkinkan pembangunan kembali hubungan diplomatik penuh. (REUTERS/Damir Sagolj)
Vatikan menyatakan perjanjian penunjukan uskup itu tidak akan tercapai dalam waktu dekat, tapi proses pembahasan terus berlangsung. (REUTERS/Damir Sagolj)
Meski hubungan antargereja tetap hangat, sejumlah penduduk desa memperingatkan perpecahan bisa mencuat jika gereja pemerintah yang merdeka dari Vatikan disatukan dengan gereja bawah tanah yang setia pada Paus Fransiskus. (REUTERS/Damir Sagolj)