Hakim Myanmar Tolak Cabut Kasus Wartawan Reuters yang Ditahan

Natalia Santi, CNN Indonesia | Kamis, 12/04/2018 12:46 WIB
Hakim Myanmar Tolak Cabut Kasus Wartawan Reuters yang Ditahan Hakim Myanmar menolak permohonan untuk mencabut kasus dua wartawan Reuters yang ditahan saat menulis tentang pembunuhan 10 warga Rohingya, Rabu (11/4). (REUTERS/Antoni Slodkowski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hakim Myanmar menolak permohonan untuk mencabut kasus dua wartawan Reuters yang ditahan dengan tuduhan memiliki dokumen rahasia pemerintah, Rabu (11/4). Kedua wartawan, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan saat sedang menyusun laporan tentang pembunuhan terhadpa 10 warga sipil Rohingya di Desa Inn Din, Maungdaw, Rakhine.

Pengadilan Yangon menggelar sidang pemeriksaan sejak Januari untuk memutuskan apakah Thet Oo Maung atau dikenal sebagai Wa Lone, 32 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun akan didakwa di bawah Undang-Undang Rahasia Negara, yang telah berlaku sejak zaman penjajahan Inggris.

Jika bukti bersalah, keduanya terancam hukuman maksimal 14 tahun penjara.


Hakim Ye Lwin yang menolak pembebasan kedua wartawan menyatakan ada alasan atas tuduhan terhadap kedua wartawan dan karena itu mereka tidak boleh dibebaskan.

Menurut pengacara pembela, Khin Maung Zaw, hakim tidak ingin kasus tersebut diberhentikan karena dia ingin mendengar kesaksian delapan dari 25 saksi yang rencananya dihadirkan.

Presiden dan Pemimpin Redaksi Reuters, Stephen J. Adler menyatakan, "Kami sangat kecewa dengan keputusan pengadilan."

"Kami percaya ada dasar yang kuat bagi pengadilan untuk menghentikan masalah ini dan melepaskan wartawan kami. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo melaporkan masalah di Myanmar dengan cara independen dan tidak berpihak. Mereka tidak melanggar hukum apapun saat mengumpulkan beriata dan hanya melakukan tugasnya. Kami akan terus melakukan segalanya untuk membebaskan mereka," kata Adler dalam sebuah pernyataan.


Sidang pemeriksaan dipenuhi para diplomat dari Prancis, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa wartawan lokal dan internasional membawakan kue ulang tahun bagi Wa Lone, yang meniupnya saat keluar dari ruang sidang.

Istri Wa Lone, Pan Ei Mon, yang sedang hamil anak pertama, langsung menangis setelah sidang. "Wa Lone bilang kepada saya agar tidak berharap terlalu banyak, tapi sebagai istrinya, saya selalu berharap," kata Pan Ei Mon sambil terisak.

"Saya ingin mereka dibebaskan secepat mungkin. Saya lelah berpura-pura bahwa saya baik-baik saja di depan suaminya. Saya sangat lelah. Saya tidak ingin berpura-pura lagi."

Polisi menangkap Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pada 12 Desember di pinggiran Kota Yangon, tak lama setelah keduanya makan malam dengan dua polisi, yang memberikan dokumen soal kekerasan yang menyebabkan 700 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus 2017.


Saat ditangkap kedua wartawan sedang mengerjakan tulisan tentang pembunuhan brutal terhadap 10 warga sipil Rohingya di Desa Inn Din, Kota Maungdaw, Rakhine, Myanmar. Kantor berita Reuters telah mempublikaskan laporan terkait pembunuhan tersebut.

Pada Selasa (10/4) lalu, tujuh tentara yang terlibat dalam pembunuhan 10 warga sipil Rohingya itu diganjar hukuman 10 tahun penjara dan kerja paksa.

"Pelaku pembantaian telah divonis 10 tahun penjara. Tetapi yang melakukannya dituduh di bawah undang-undang yang bisa membuat kami dipenjara 14 tahun," teriak Wa Lone kepada wartawan di tangga pengadilan, sebelum didorong masuk ke dalam truk bak terbuka oleh polisi.

"Jadi, saya ingin bertanya kepada pemerintah: Di mana kebenaran? Di mana kebenaran dan keadilan? Di mana demokrasi dan kebebasan?"

Senada dengan Wa Lone, Kyaw Soe Oo menyerukan kekecewaannya. "Para pembunuh divonis hanya 10 tahun penjara. Apakah ini demokrasi?"


Kepada keluarga, kedua jurnalis itu mengaku mereka ditahan tak lama setelah menerima berkas di sebuah restoran di Yangon Utara, oleh dua polisi yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Keduanya diundang polisi itu untuk makan malam.

Saksi polisi, menyatakan kedua wartawan dihentikan dan digeledah di sebuah perlintasan lalu lintas oleh petugas yang tidak tahu bahwa mereka jurnalis dan menemukan dokumen terkait penempatan pasukan keamanan di Rakhine, Myanmar.

Dalam pembelaan, pengacara mengatakan dokumen itu berisi informasi umum dan tidak bisa dianggap sebagai rahasia. Sidang pemeriksaan terhadap kedua wartawan Reuters yang ditahan aparat Myanmar itu bakal digelar 20 April mendatang.

[Gambas:Video CNN]


(nat)