Dubes Bangladesh Sebut Rohingya Jadi Beban Ekonomi Negara

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 09/04/2018 15:11 WIB
Dubes Bangladesh Sebut Rohingya Jadi Beban Ekonomi Negara Ilustrasi pengungsi Rohingya di Bangladesh. (Reuters/Danish Siddiqui)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Bangladesh melalui duta besarnya di Jakarta, Azmal Kabir, mengatakan eksodus pengungsi Rohingya di perbatasan dengan Myanmar membawa dampak besar dan menjadi beban perekonomian negara.

"Tragedi ini menjadi tekanan dan tantangan bagi eonomi Bangladesh," kata Kabir kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/4).

Kabir mengatakan sejauh ini ada lebih dari 1,1 juta Rohingya mengungsi di sejumlah kamp di negaranya sejak krisis kemanusiaan kembali memburuk di negara bagian Rakhine, Myanmar, pada Agustus 2017 lalu.


"Perbatasan seperti Cox's Bazar bukan lah tempat yang tepat untuk menampung mereka. Ketika para pengungsi menderita, kami pun menderita," ucap Kabir.
Selain mempengaruhi perekonomian negara, kedatangan para pengungsi juga mempengaruhi kehidupan warga lokal di dekat penampungan.

Meski sumber dan tenaga terbatas, Bangladesh berkomitmen membantu menampung jutaan pengungsi Rohingya sementara tersebut.

Menurut Kabir, Bangladesh juga akan mulai memindahkan 100 ribu pengungsi Rohingya ke Thengar Car, pulau terpencil di pesisir selatan negaranya mulai Juni mendatang.

Sejauh ini Bangladesh mengklaim sudah membangun tempat tinggal yang dapat menampung 50 ribu pengungsi di pulau itu.
Sementara itu, beberapa pembangunan lainnya untuk menampung 50 ribu pengungsi sisanya masih terus dilakukan. Bangladesh mengalokasikan dana sekitar US$280 juta untuk membangun pulau tersebut.

Saat ini, Bangladesh juga masih berupaya melaksanakan pemulangan para pengungsi Rohingya ke Rakhine, bekerja sama dengan Myanmar di bawah perjanjian yang ditandatangani November 2017 lalu.

Walau ada sejumlah kesulitan, proses repatriasi masih terus dilakukan kedua negara. Kabir menegaskan proses pemulangan harus tetap dilakukan karena para pengungsi bukan warga negara Bangladesh.

"Proses repatriasi masih berjalan. Ini proses yang panjang dan kritis, tapi kami tetap berupaya berpegang teguh pada niat baik Myanmar. Koordinasi sangat diperlukan dalam proses ini supaya pemulangan pengungsi bisa dilakukan," ujar Kabir. (has)