Serangan Udara Diklaim Hancurkan Jantung Senjata Kimia Suriah

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 15/04/2018 04:39 WIB
Serangan Udara Diklaim Hancurkan Jantung Senjata Kimia Suriah Pesawat sekutu sebelum lepas landas untuk melakukan serangan ke Suriah, di Akrotiri, Siprus, 14 April. (UK MOD Crown 2018/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan koalisi Barat mengklaim sudah menyerang pusat program senjata kimia Suriah. Meskipun, serangan tersebut tidak menjamin Presiden Suriah Bashar al-Assad menghentikan peperangan di Suriah.

Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris dikabarkan meluncurkan 105 rudal, Sabtu (14/4) malam, sebagai pembalasan atas dugaan serangan gas beracun di Suriah, sepekan yang lalu.

Mereka menargetkan apa yang disebut Pentagon sebagai tiga fasilitas senjata kimia, yakni sebuah pusat penelitian dan pengembangan di distrik Barzeh, Damaskus, dan dua instalasi di dekat Homs.

"Kami percaya bahwa dengan memukul Barzeh, kami telah menyerang jantung program senjata kimia Suriah," kata Letnan Jenderal Kenneth McKenzie di Pentagon, AS, Sabtu (14/4), dikutip dari Reuters.

Namun demikian, McKenzie mengakui sejumlah elemen program senjata kimia itu masih ada. Dia juga tidak bisa menjamin bahwa Suriah tak lagi mampu melakukan serangan senjata kimia di masa depan.

Negara-negara Barat mengatakan serangan ini ditujukan untuk mencegah lebih banyak serangan senjata kimia Suriah. Sebelumnya, serangan yang diduga menggunakan gas beracun terjadi di Douma, Suriah, 7 April, dan menewaskan 75 orang. Mereka menyalahkan pemerintah Assad atas serangan itu.

Wapres AS Mike Pence, di Israel, 21 Januari.Wapres AS Mike Pence, di Israel, 21 Januari. (Reuters/Ammar Awad)

Di Washington, seorang pejabat senior pemerintah mengatakan bahwa ada bukti yang menunjukkan bahwa klorin dan gas syaraf sarin digunakan dalam serangan itu.

Namun, saat ditemui di Peru Wakil Presiden AS Mike Pence mengaku pihaknya masih mengkaji tentang penggunaan sarin dalam serangan itu. Meskipun, ia yakin bahwa ada penggunaan klorin.

Sepuluh jam setelah rudal menghantam, asap masih tampak membumbung dari sisa-sisa lima bangunan di Pusat Penelitian Ilmiah Suriah, Barzeh, yang hancur. Belum ada ada laporan korban.

Suriah kemudian merilis video dari reruntuhan laboratorium penelitian itu. Di sisi lain, Pemerintah juga merilis video Assad yang tiba di tempat kerja.



Al Assad mengatakan serangan itu menunjukkan kegagalan kekuatan Barat dalam mencapai tujuan mereka di Suriah.

"Serangan itu terjadi setelah pasukan penjajah, yang mendukung para teroris, menyadari bahwa mereka kehilangan kendali, merasa bahwa mereka kehilangan kepercayaan di depan rakyat mereka sendiri dan dunia," kata Assad, dikutip dari Antara.


Dia mengeluarkan pernyataan itu dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Hassan Rouhani setelah serangan pimpinan AS menghantam Suriah.

Terpisah, komando pasukan Suriah mengumumkan bahwa wilayah Ghouta Timur bebas dari militan. Hal itu terjadi setelah para pejuang pemberontak beranjak dari kota Douma ke arah utara negara itu.

"Semua teroris telah meninggalkan kota Douma, benteng terakhir mereka di Ghouta Timur," kata pernyataan itu.

Pada Minggu (15/4), kelompok pemberontak Jaish al-Islam, yang telah menguasai kota itu, mencapai kesepakatan dengan pemerintah dan sekutu militernya, Rusia, untuk meninggalkan kota tak lama setelah serangan senjata kimia, 7 April.

Bus-bus yang membawa pemberontak dan keluarga mereka serta warga sipil yang tidak ingin tinggal di Douma di bawah pemerintahan Presiden Bashar al-Assad telah meninggalkan kota dalam beberapa kelompok selama beberapa hari terakhir.

Mereka akan melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang dikuasai oposisi di Suriah Utara, dekat perbatasan dengan Turki .

Sebelumnya, pasukan pemerintah melancarkan serangan mereka terhadap Ghouta Timur, Februari, dengan dukungan senjata Rusia.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris, mengatakan operasi militer itu menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil.

(arh)