Trump Tolak Tambah Sanksi Rusia terkait Senjata Kimia Suriah

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 18:02 WIB
Trump Tolak Tambah Sanksi Rusia terkait Senjata Kimia Suriah Donald Trump menolak serangkaian sanksi baru atas Rusia terkait senjata kimia Suriah, memperdalam indikasi perbedaan pendapat di dalam pemerintahan AS. (Reuters/Yuri Gripas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump menolak rencana serangkaian sanksi baru atas Rusia terkait senjata kimia Suriah, Senin (16/4), memperdalam indikasi perbedaan pendapat di dalam pemerintahan Amerika Serikat.

Rencana penerapan sanksi ini pertama kali diungkapkan oleh Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, hanya sehari sebelumnya.

Haley mengatakan bahwa sanksi tersebut termasuk dalam daftar opsi tindakan lanjutan setelah AS menggencarkan serangan rudal gabungan bersama Inggris dan Perancis ke tiga titik di Suriah pada Sabtu (14/4).
Seorang pejabat anonim mengatakan kepada Reuters bahwa, "Duta besar itu sekarang bicara terlalu cepat."

Pada Senin, Gedung Putih pun menyatakan bahwa Trump belum menyetujui rencana itu dan mereka masih terus mempertimbangkan langkah selanjutnya.

"Kami mempertimbangkan sanksi tambahan atas Rusia dan keputusan akan diambil dalam waktu dekat," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders, sebagaimana dikutip Straits Times.
Dalam kesempatan selanjutnya, Sanders pun menegaskan kepada para wartawan bahwa, "Presiden jelas akan tegas terhadap Rusia, tapi pada saat bersamaan juga ingin memiliki hubungan baik dengan mereka."

Salah satu pejabat Gedung Putih mengatakan kepada New York Times bahwa Trump sebenarnya tak ingin sanksi itu diterapkan.

Trump menganggap sanksi itu tidak perlu karena Rusia menanggapi serangan pada Sabtu lalu dengan gertakan.
Pejabat lain juga mengatakan kepada Reuters bahwa Trump khawatir sanksi dapat membuyarkan kesempatannya berdialog dengan Presiden Vladimir Putin untuk mengakhiri perang sipil di Suriah.

Sejak Trump menjabat, sikap AS terhadap Rusia melunak, meski penyelidikan dugaan intervensi Rusia dalam pemilu demi kemenangan sang presiden terus berjalan.

Namun belakangan, Trump bersikap keras terhadap Moskow, terutama setelah kasus peracunan agen ganda Rusia di Salisbury, Sergei Skripal. Sebagai tanggapan, AS mengusir 60 diplomat Rusia. (has)