KBRI Riyadh Temukan Nenek yang Hilang Kontak Selama 28 Tahun

Natalia Santi, CNN Indonesia | Kamis, 19/04/2018 21:50 WIB
KBRI Riyadh Temukan Nenek yang Hilang Kontak Selama 28 Tahun Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel bersama Jumanti binti Bejo Bin Nur Hadi alias Qibtiyah Jumanah, 74 tahun, yang hilang kontak dengan keluarga di Indonesia selama 28 tahun. (Ist/KBRI Riyadh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kedutaan Besar RI (KBRI) Riyadh, Arab Saudi menyelamatkan seorang nenek berusia 74 tahun yang putus kontak dengan keluarga di Indonesia selama 28 tahun.

WNI bernama Jumanti binti Bejo Bin Nur Hadi alias Qibtiyah Jumanah datang pertama kali ke Arab Saudi pada 14 Agustus 1990.

Warga Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, Jawa Tengah ini sekarang berada di Rumah Singgah KBRI Riyadh dan dalam proses pemulangan ke Indonesia.


"Sebagaimana yang pernah viral di media sosial 9 Maret 2018 mengenai seorang WNI yang bekerja di Arab Saudi selama 40 tahun dan tidak pernah ada komunikasi dengan keluarga di Indonesia, KBRI Riyadh langsung merespons dan melakukan pengecekan di database KBRI dan nama tersebut tidak ditemukan," kata Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (19/4).

Menurut Dubes Agus Maftuh, hal ini dipastikan bahwa nenek Qibtiyah, sejak datang ke Arab Saudi tidak pernah mengajukan perpanjangan paspor sehingga iqomah (izin tinggal di Saudi) juga tidak terdeteksi.

Pelacakan dilakukan KBRI dengan menghubungi majikan (kafil) dan saudara-saudaranya untuk mencari titik terang keberadaan Nenek Qibtiyah tersebut.

Selanjutnya KBRI menemukan data bahwa Qibtiyah bekerja di rumah Nourah Mohammed al-Daerim di Kota Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi.

Keberadaan Qibtiyah mulai ada titik terang ketika KBRI Riyadh berhasil mendapatkan nomor kontak kakak kandung majikan Qibtiyah bernama Abdulaziz Mohammed al-Daerim.

Tim Perlindungan WNI langsung intensif melakukan penelusuran dengan menghubungi para WNI yang pernah berinteraksi dengan Qibtiyah Jumanah dan salah satunya adalah Niayah binti Kasimin yang bekerja di kakak majikan Qibtiyah.

"Niayah, WNI asal Malang ini menjadi sumber informasi strategis tentang keberadaan Qibtiyah," kata Agus.

Menurut Agus, majikan dan saudaranya sempat menghalangi pencarian informasi, setelah mengetahui bahwa KBRI Arab Saudi melakukan pelacakan intensif terhadap Qibtiyah.

"Mereka berusaha untuk menghambat dan tidak koperatif dengan memberikan informasi menyesatkan kepada Tim KBRI bahwa Qibtiyah sudah dipulangkan ke Indonesia tiga bulan yang lalu," kata Agus Maftuh.

Tanggal 14 Maret 2018 KBRI Riyadh mengirimkan nota diplomatik ke Kemenlu Arab Saudi untuk meminta bantuan dalam menelusuri keberadaan Qibtiyah.

Usaha ini belum membuahkan hasil sehingga pada 27 Maret 2018 Dubes Agus Maftuh menyampaikan surat khusus kepada Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud yang juga keponakan Raja Salman untuk meminta bantuan pencarian Qibtiyah.

"Gubernur Riyadh memerintahkan semua instansi di bawahnya untuk membantu KBRI Riyadh dalam menemukan nenek Qibtiyah," kata Dubes Agus Maftuh.

Dan akhirnya pada 18 April 2018, nenek asal Bondowoso, Jawa Timur ini bisa ditemukan dan dijemput Tim Pelayanan WNI KBRI Riyadh, Arab Saudi untuk diproses hak-haknya dan kepulangannya ke Indonesia. (nat/ugo)