"Kami tengah berdiskusi dengan AS dan itu sudah dilakukan sejak awal krisis Suriah, soal pengiriman pasukan ke Suriah," kata Jubeir dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, Selasa (19/4).
Dikutip Reuters, dia mengatakan Riyadh sempat menyatakan kesiapannya saat Barack Obama masih menjadi Presiden Amerika Serikat, jika Negeri Paman Sam ingin menambah komponen lapangan dalam memerangi ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump ingin menarik pasukannya di Suriah tapi belum menentukan waktu pastinya, kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders, Senin, dua hari setelah sekutu Barat membombardir sejumlah sasaran di Suriah terkait serangan senjata kimia mematikan.
Seorang pejabat mengatakan kepada Reuters bahwa AS tengah menimbang pasukan apa yang mungkin bisa meneruskan tugas di daerah bekas kekuasaan ISIS, jika Amerika menarik atau mengurangi pasukannya dalam jumlah besar. Namun, belum ada keputusan terkait hal itu hingga saat ini.
Sebelum serangan militer Barat dilakukan, Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan negaranya yang merupakan sekutu penting AS, bisa ikut serta bertempur di Suriah.
Contohnya, koalisi Islam yang didukung Saudi akan menyediakan logistik, intelijen dan pelatihan untuk pasukan kontra-terorisme baru Afrika Barat, kata Jubeir, Desember lalu.
Sekitar 40 negara mayoritas Muslim berkumpul di Riyadh pada akhir November untuk membedak rincian aliansi yang pertama kali digagas Pangeran Mohammed dua tahun lalu. Persekutuan itu dipandang sebagai kendaraan Saudi menyaingi pengaruh Iran, negara pesaingnya di kawasan.
(aal)