Jepang, sekutu Amerika Serikat yang menerima langsung ancaman--sempat dua kali dilintasi peluru kendali--dari Korut, menyatakan skeptis atas perubahan seketika yang ditunjukkan negara terisolasi itu, mengingat sejarah panjang pengkhianatan Pyongyang atas janji-janjinya dalam upaya damai di masa lalu.
Begitu pula separuh warga di Korsel yang dilaporkan tak lagi berharap banyak, meski pemerintahan Presiden Moon Jae-in meyakini Korut tulus kali ini, mengingat rezim Kim Jong-un sampai rela menyetop sementara uji coba rudal dan nuklirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua negara sepakat reunifikasi mesti dicapai tanpa keterlibatan atau ikut campur kekuatan asing; dicapai dengan cara damai tanpa penggunaan tindakan militer; dan mesti mendorong kesatuan nasional di atas perbedaan apapun terkait ideologi maupun sistem politik.
Namun, niat itu tak kunjung terealisasi dan dibayangi niat Korut mengembangkan kekuatan nuklir, meski sudah bergabung dengan Pakta Non-proliferasi Nuklir internasional yang melarangnya mengembangkan senjata penghancur massal.
Pada 1993, Badan Energi Atom Internasional menuding Korut melanggar perjanjian tersebut dan meminta diberikan akses ke situs limbah nuklir. Negara itu kemudian mengancam menarik diri dari pakta dan menguji coba rudal balistik jarak menengah ke Laut Jepang.
Dua tahun setelahnya, Korut menyatakan tidak akan lagi mematuhi gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea, mengirim ribuan pasukan ke Zona Demiliterisasi (DMZ) pemisah kedua negara. Peristiwa ini diikuti sejumlah insiden dan provokasi.
Kim Jong-il bertemu dengan Kim Dae-jung di Pyongyang, 2000. (AFP Photo/Korea Pool/Yonhap) |
Tak bertahan lama, pertempuran kapal perang terjadi di Laut Kuning pada 2002, menewaskan 30 pelaut Korut dan empat dari pihak Korsel.
Pada awal 2003, Korut menarik diri dari Pakta Non-proliferasi Nuklir. Peristiwa ini diikuti pembicaraan enam negara, melibatkan kedua Korea, China, AS, Jepang dan Rusia.
Berselang empat bulan, Korea Utara menarik diri dari kesepakatan Semenanjung Korea bebas nuklir yang ditandatangani bersama Korsel pada 1992.
Pada 2005, Korut secara publik mengakui tengah mengembangkan senjata nuklir untuk "mempertahankan diri" dan setahun setelahnya menembakkan tujuh rudal jarak jauh yang dilaporkan bisa mencapai wilayah AS.
Lihat juga:Kim Jong Un Setop Tes Uji Coba Nuklir |
Langkah-langkah provokatif itu kembali diakhiri dengan pertemuan tingkat tinggi 2007, dan Presiden Roh Moo-hyun jadi pemimpin Korsel pertama yang berjalan melintasi DMZ.
Roh Moo-hyun jadi presiden Korsel pertama yang melintasi DMZ, 2007. (AFP Photo/Pool) |
Berselang dua tahun, Pyongyang kembali berulah, menyatakan akan meninggalkan seluruh kesepakatan militer dan politiknya dengan Seoul menyusul perenggangan hubungan di bawah Presiden Lee Myung-bak yang berjanji akan bersikap lebih keras pada tetangganya.
Di tahun yang sama, Korea Utara juga meluncurkan roket jarak jauh, melakukan uji coba nuklir kedua di bawah tanah dan memicu kecaman Dewan Keamanan PBB. Sikap internasional membuat Pyongyang menarik diri dari perjanjian enam negara.
Hanya saja, konfrontasi kembali terjadi pada Maret 2010, di mana Korea Utara menenggelamkan kapal perang Cheonan Korea Selatan di dekat perbatasan laut, menewaskan 46 orang. Bentrokan juga terjadi enam bulan kemudian dan menewaskan dua pelaut Korsel.
Di bawah kepemimpinan Kim Jong-un yang dimulai setelah ayahnya meninggal dunia pada 2011, Korut kembali menggenjot program senjatanya. Pada 2013, negara tersebut melakukan uji coba nuklir ketiga dan kembali disanksi oleh PBB.
Dua rudal balistik jarak menengah diluncurkan pada 2014, untuk pertama kalinya sejak 2009.
Peristiwa itu hanya diikuti pengembangan senjata nuklir lebih jauh, termasuk pembukaan kembali fasilitas nuklir Yongbyon, uji coba bom hidrogen pertama dan serangkaian peluncuran rudal balistik hingga 2017 lalu.
Tahun 2017 menjadi momen di mana ketegangan kembali memuncak di Semenanjung Korea, diwarnai silih ancam perang Kim Jong-un dengan Donald Trump yang baru menjabat sebagai presiden Amerika.
Untuk kesekian kalinya, ketegangan kembali dibenturkan dengan niat Korut memperbaiki hubungan dan ikut serta di Olimpiade Musim Dingin Korsel, 2018.
(aal/aal)
Kim Jong-il bertemu dengan Kim Dae-jung di Pyongyang, 2000. (AFP Photo/Korea Pool/Yonhap)
Roh Moo-hyun jadi presiden Korsel pertama yang melintasi DMZ, 2007. (AFP Photo/Pool)