Kuwait Usir Duta Besar Filipina dalam Seminggu

Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 03:51 WIB
Kuwait Usir Duta Besar Filipina dalam Seminggu Dubes Filipina di Kuwait diusir dalam waktu seminggu (AFP PHOTO / NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kuwait memerintahkan Duta Besar Filipina untuk meninggalkan negara tersebut dalam jangka waktu seminggu.

Kuwait juga menarik duta besarnya dari Filipina untuk berkonsultasi setelah staf kedutaan mencoba 'menyelamatkan' pekerja rumah tangga Filipina yang dilaporkan karena kasus kekerasan.

Perintah pengusiran dan penarikan utusan ini menjadi episode baru dalam konflik yang sudah berlangsung selama tiga bulan ini. Konflik ini dipicu oleh adanya laporan bahwa beberapa beberapa orang Filipina bunuh diri karena penyiksaan yang dilakukan majikan Kuwait.


Mengutip Reuters, setelah terjadinya laporan penyiksaan, kedua negara berjanji dan sepakat tunduk pada pakta perlindungan pekerja asing. Kesepakatan ini tercipta setelah Filipina melarang pengiriman pekerja ke Kuwait.


Kementerian luar negeri Kuwait mengatakan bahwa mereka memberikan duta besar Filipina waktu selama tiga hari untuk mencantumkan nama penduduk Filipina di Kuwait yang menculik pekerja rumah tangga dari ruma majikannya. Namun sampai saat ini pihaknya mengaku belum mendapat tanggapan dari kedutaan Filipina.

Sebelumnya, pada Selasa (24/4) Filipina sudah meminta maaf terkait 'pelanggaran menyolok' dari kedaulatan Kuwait. Sekretaris luar negeri Filipina mengatakan bahwa kedutaan terpaksa 'membantu' pekerja Filipina yang meminta bantuan, karena dianggap sebagai masalah hidup dan mati.

Namun, kementerian luar negeri mengatakan bahwa pasukan keamanan Kuwait akan terus memburu orang yang dianggap melanggar keamanan negara dan mengadilinya.

Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri Filipina mengatakan bahwa tindakan yang diambil pemerintah Kuwait sangatlah menganggu. Tindakan mereka juga dianggap tak konsisten dengan jaminan yang diberikan Duta Besar Kuwait selama pertemuannya dengan Sekretaris Alan Peter S. Cayetano, Selasa lalu.

"Dalam diskusi dengan Kuwait, Filipina selalu menekankan bahwa kesejahteraan warga negara Filipina di mana pun mereka berada adalah hal yang sangat penting.


Pada Februari lalu, Presiden Filipina Rodrrigo Duterte meminta pekerja Filipina di Kuwait untuk pulang. Saat itu dia menemukan mayat pekerja rumah tangga Filipina di Kuwait dalam sebuah lemari es di sebuah rumah yang ditinggalkan.

Pekerja asing di beberapa negara Teluk sendiri bekerja di bawah sistem sponsor. Hal ini memberikan hak penuh kepada majikan untuk menyimpan paspor mereka dan memiliki kendali penuh mengatur masa tinggal pekerja rumah tangganya.

Human Right Watch dan Amnesty International juga sudah lama mengeluhkan bahwa negara-negara Teluk tidak mengatur kondisi kerja pekerja rumah tangga dengan baik. Misalnya soal jam kerja yang terlalu lama, tak ada fleksibilitas mengubah kontrak yang bertentangan dengan undang-undang ketenagakerjaan internasional, sampai mencabut hak asasi mereka. (chs/chs)