Kedutaan AS di Yerusalem, Gedung Pemecah Belah Timur Tengah

rgt & CNN, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 19:52 WIB
Kedutaan AS di Yerusalem, Gedung Pemecah Belah Timur Tengah Gedung kedutaan AS yang terletak di kawasan Arnona, Yerusalem itu tampak sederhana, namun keberadaannya mengaburkan harapan damai, memecah belah Timur Tengah. (REUTERS/Ronen Zvulun)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki gereja-gereja, mesjid dan kuil bersejarah, Yerusalem merupakan kota yang kerap dirundung ketegangan. Selama berabad-abad selalu berada di pusaran konflik Israel dan Palestina.

Terletak di tanah suci yang sensitif. Dari semuanya, Yerusalem adalah yang tersuci. Kota suci dari tiga agama, Islam, Kristen dan Yahudi.

Dilansir CNN, perselisihan biasanya muncul di sekitar tempat-tempat suci di Kota Tua yang di kelilingi dinding yang berumur 700 tahun.


Kali ini, sebuah bangunan yang sederhana terselip di atas bukit di sekitar satu mil dari tembok batu kapur berwarna putih di Kota Tua, 'gempa' politik dan diplomatik berkumandang.


Gedung itu terletak di kawasan yang luar biasa. Dikelilingi ladang-ladang kecil, rumah dan Hotel Diplomat, yang dulunya panti jompo bagi imigran Russia.

Selama delapan tahun, bangunan yang ada di lingkungan Arnona tersebut merupakan gedung konsulat Amerika Serikat di Yerusalem, tempat mengajukan visa dan memperbarui paspor.

Namun sejak Senin (14/5), gedung itu resmi menjadi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel, langkah simbolis pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, janji Presiden Donald Trump dalam kampanyenya.

Keputusan Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan dari Tel Aviv memutar-balikkan kebijakan luar negeri AS dalam beberapa dekade terakhir. Para presiden AS sebelum Trump menyadari besarnya konflik yang bisa timbul jika menganggukkan kepala pada keinginan Israel untuk menguasai Yerusalem, menjadikannya ibu kota, di saat komunitas internasional menentangnya.

Kedutaan AS di Yerusalem, Gedung Pemecah Belah Timur TengahFoto: Diolah dari Laurence SAUBADU / AFP


Bisa dibilang ini merupakan isu yang sangat sensitif yang telah berlangsung lama antara konflik Israel dan Palestina dan menimbulkan protes di seluruh Timur Tengah. Banyak demonstran yang menargetkan kedutaan AS di luar negeri akibat keberpihakan Washington terhadap Israel.

Meski begitu, pembukaan kedutaan AS membawa kebahagiaan bagi sejumlah kalangan di Israel.

Seperti Shimon Aviv, 45 tahun. Tukang kebun yang tinggal dekat kedutaan AS yang baru mengaku sangat bahagia. "Relokasi kedutaan seharusnya sejak dahulu, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata Aviv yang. juga menanam bunga bagi acara pembukaan kedutaan AS, yang dihadiri anak-menantu Trump, Ivanka dan Jared Kushner itu.

"Saya sangat senang menanam, apalagi ada hal yang bagus. Saya berharap banyak pemimpin dunia yang mengikuti langkah Trump," kata Aviv.

Sejauh ini, hanya Guatemala dan Paraguay telah mengumumkan akan memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem. Dunia internasional menyerukan agar tidak ada negara-negara lain yang mengikuti jejak Trump. PBB bahkan mengimbau agar AS mencabut keputusannya.


Sebaliknya bagi warga Palestina, pembukaan kedutaan AS di Yerusalem adalah sebuah bencana.

Khader Yousef, supir taksi dan juga penjual buah-buahan di Yerusalem menyatakan tidak seorang pun warga Palestina yang menerima pemindahan kedutaan AS.

"AS mengatakan kita tidak punya apa-apa lagi di Yerusalem. Mereka mengatakan kepada kami bahwa tidak ada harapan bagi Palestina untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota," kata pria berusia 53 tahun itu.


"Tanpa perang tidak akan ada kedamaian, dan apa yang diambil dengan kekuatan tidak akan bisa kembali tanpa kekuatan," kata Yousef.

Trump menjanjikan perdamaian antara Israel dan Palestina. Tetapi perdamaian kian menjauh dengan dibukanya kedutaan AS di Yerusalem. (nat)