FOTO: Menjaga Identitas Dukha, Penggembala Rusa di Mongolia

REUTERS/Thomas Peter, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 06:03 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Para penggembala di Mongolia khawatir identitasnya terlucuti dengan larangan perburuan liar pemerintah di kawasan tempat tinggal tradisional mereka.

Erdenebat Chuluu, seorang penggembala nomaden di wilayah selatan Mongolia, Taiga, wilayah yang penuh dengan hutan lebat dan berjarak 200 kilometer dari jalan raya terdekat. Dia berteriak memanggil rusanya,
Begitu berada di tempat terbuka, rusa itu langsung membawa penggembalanya melangkah berhati-hati, melintasi pepohonan tumbang, menyisir jalanan yang dipenuhi lelehan salju. (REUTERS/Thomas Peter)
Hampir seluruh hidup Chuluu dihabiskan di kawasan itu. Melanjutkan Dukha, tradisi nenek moyangnya yang telah berusia berabad-abad. Tradisi itu dikenal dengan keterampilan penggembalaan di hutan Pegunungan Sayan yang berbatu-batu, yang membentang di perbatasan Rusia. (REUTERS/Thomas Peter)
Belakangan, para penggembala Dukha khawatir mereka akan kehilangan identitas di tengah atura konservasi pemerintah yang melarang perburuan liar di tanah kelahiran mereka. (REUTERS/Thomas Peter)
Pada 2012, pemerintah Mongolia menyatakan sebagian besar lahan penggembalaan tradisional Dukha sebagai bagian dari Taman Nasional untuk melindungi ekosistem yang rusak beberapa dekade sebelumnya. (REUTERS/Thomas Peter)
Pada era Uni Soviet, sistem kuota berburu yang memberikan penghidupan bagi penggembala Dukha dan mempertahankan jumlah satwa liar. Namun aturan ini kemudian banyak dilanggar. (REUTERS/Thomas Peter)
Dukha dan warga setempat lainnya memburu rusa liar untuk dijual ke China hingga hingga hewan-hewan itu menjadi langka. (REUTERS/Thomas Peter)
Pemerintah kini memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi larangan berburu, tapi banyak penggembala Dukha merasa kehilangan separuh identitasnya. (REUTERS/Thomas Peter)