ANALISIS

Ketulusan Korut, Provokasi AS dan Aksi Koboi Trump

Natalia Santi, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 13:54 WIB
Ketulusan Korut, Provokasi AS dan Aksi Koboi Trump Provokasi Amerika Serikat dianggap menjadi penyebab utama batalnya pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong-un. (Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya membatalkan rencana pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Pertemuan yang sedianya digelar di Singapura pada 12 Juni mendatang resmi batal. Surat kepada Kim Jong-un pun disematkan di akun Twitter resmi Trump, Kamis (24/5).

Dalam surat itu, Trump menyayangkan sikap permusuhan yang ditunjukkan Korea Utara sehingga berujung pembatalannya. Padahal, hanya berselang beberapa jam sebelumnya puluhan wartawan internasional menyaksikan Korea Utara menghancurkan fasilitas uji coba nuklirnya meski tanpa dihadiri pengawas nuklir internasional. Perlucutan senjata nuklir atau denuklirisasi merupakan kesepakatan yang tercapai dalam pertemuan Kim Jong-un dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in beberapa waktu lalu.

Pengamat hubungan internasional, Teguh Santosa mengaku tidak kaget akan pembatalan rencana pertemuan Trump dengan Kim Jong-un. Dia sudah memperkirakan hal tersebut terjadi dengan melihat tindak-tanduk Amerika Serikat yang masih menganggap diri mereka sebagai polisi dunia.



"Ada dua hal yang berbeda dalam masalah ini. Yakni perdamaian kedua Korea. Lalu pembicaraan antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Namun retorika yang dibangun AS selalu mengaitkan kedua hal yang berbeda ini," kata Dosen Hubungan Internasional Asia Timur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (25/5).

Dalam berbagai kesempatan para pejabat Amerika Serikat, termasuk Trump selalu menegaskan bahwa pertemuan Presiden Korsel Moon Jae-in dan Kim Jong-un adalah buah dari tekanan Amerika Serikat.

Selain itu dalam banyak pernyataan Amerika Serikat kerap mengerdilkan, dan bahkan mengaitkan denuklirisasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal dihadapi Korut jika tidak memenuhi janjinya. Seperti mengancam nasibnya bakal seperti Libya atau Irak.


"Ini bukan komunikasi yang baik. Tapi selalu dikatakan oleh para pejabat AS baik Donald Trump, Mike Pence (Wapres AS), maupun Bolton, (John Bolton, penasihat keamanan Trump)," kata Teguh, yang juga Sekjen Perhimpunan Persahabatan Korea Utara tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Pence memperingatkan Kim Jong-un yang dinilai mempermainkan AS. Pence menyakan jika Kim Jong-un melakukannya maka itu adalah sebuah kesalah besar. Pence pun mengulangi ancaman yang dilontarkan John Bolton dan Trum sebelumnya bahwa Korut bisa berakhir seperti Libya "jika Kim Jong-un tidak membuat kesepakatan."

Wakil Menteri Luar Negeri Korut Choe Son Hui pun bereaksi keras. Dia menyebut pernyataan Pence sebagai dunungu dan bodoh. "Jika AS melecehkan niat baik kami dan bertindak tidak sesuai dengan hukum, saya akan memberi saran kepada pemimpin kami untuk mempertimbangkan pertemuan dengan AS," kata Choe.

Pertemuan Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-inFoto: Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters
Pertemuan Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in


Amerika Serikat langsung menilai pernyataan Wamenlu Korut sebagai pernyataan kemarahan. "Tidak dilihat mengapa Korut menyampaikan kritik. Marahlah Korut kalau diminta begini begitu, kalau tidak begitu seperti Libya, itu tidak fair," kata Teguh.

Menurutnya, Amerika Serikat tidak bisa berkomunikasi dan tidak bisa memilih hal-hal yang perlu dirahasiakan ke publik sebelum suksesnya sebuah rencana.

"Akibat provokasi-provokasi itu, akhirnya apa yang kita inginkan bersama, pembicaraan perdamaian berantakan," kata Teguh.


Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in langsung menggelar rapat darurat di Istana Kepresidenan Cheong Wa Dae, kantor resminya. Hasilnya, Moon menyatakan harapan bahwa para pemimpin bisa berkomunikasi secara langsung dan tertutup sebelum menggelar pertemuan resmi.

Menurut pernyataan Istana Kepresidenan tanpa menyebut nama maupun negara yang dimaksud, jika tidak begitu (lkomunikasi angsung dan tertutup), pertemuan tidak akan terjadi karena terkesan akan terus memprovokasi.

Teguh menilai Amerika Serikat belum rela kedua Korea melakukan pembicaraan damai. Amerika Serikat juga tidak memiliki kemampuan atau kemauan untuk berkomunikasi dengan cara-cara yang pantas. Salah satunya, surat Trump kepada Kim Jong-un soal pembatalan pertemuan juga tersebar luas. "Ini kasar," kata Teguh.  Menurutnya, orang-orang yang tidak mengikuti isu ini sejak awal bakal mengira Kim Jong-un lah yang menjadi biang keladi kegagalan.


Padahal Korea Utara sendiri, sesuai pernyataan Wakil Menteri Luar Korut Kim Kye Gwan, masih mau duduk berdialog.

Selain menghancurkan fasilitas nuklir di Punggye-ri, Korea Utara juga telah memperlihatkan itikad baik dengan membebaskan tiga warga AS yang mereka tahan beberapa waktu lalu.

"Korea Utara dengan tulus mengikatkan diri pada hasil-hasil Deklarasi Panmunjom," kata Teguh. Sebaliknya, Teguh menilai AS menjadi pengganggu dengan aksi-aksi ala koboinya. "Mereka merasa masih menjadi polisi dunia. Ini masalahnya," kata dia.

[Gambas:Video CNN]

"Jangan ajarkan Korea membangun perdamaian. Korea lebih tua usianya dari AS. Biarkan Korea berdialog. AS bukan polisi dunia lagi," kata Ketua Bidang Luar Negeri PWI Pusat tersebut.

Sementara sikap Korea Utara tetap positif. Korea Selatan pun tetap optimistis bahwa Trump akan bertemu dengan Kim Jong-un suatu hari nanti. "Setelah ini mereka pasti mengevaluasi diri, Korut, AS, dan Korsel," kata Teguh.

(nat)