Temui Ayah Altantuya, Mahathir Dukung Buka Lagi Penyelidikan

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 08:22 WIB
Temui Ayah Altantuya, Mahathir Dukung Buka Lagi Penyelidikan Mahathir menyatakan dukungan untuk membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu saat bertemu dengan ayah model yang tewas di Malaysia itu. (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Mahathir Mohamad menyatakan dukungan untuk membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu, model asal Mongolia yang tewas di Malaysia pada 2006 lalu.

Dukungan ini disampaikan langsung oleh Mahathir saat bertemu dengan ayah Altantuya, Setev Shaariibuu, di kantornya pada Rabu (20/6).

"Dia [Mahathir] mendukung pembukaan kembali penyelidikan jika ada bukti baru selama sesuai dengan hukum, yang menurut saya tepat. Kami setuju," ujar pengacara Setev, Ramkarpal Singh, setelah menemani kliennya bertemu dengan Mahathir.


Sebelum menemui Mahathir, Setev sendiri baru saja melayangkan laporan terbaru mengenai pembunuhan putrinya ke kepolisian, jalan pembuka untuk memulai penyelidikan anyar.

"Ada harapan untuk menyelesaikan masalah ini karena ada petunjuk baru kasus ini. Kami senang dengan pertemuan [bersama Mahathir] ini dan optimistis akan mendapatkan hasil lebih baik segera," ucap Ramkarpal.
Ia juga tak menutup kemungkinan bahwa polisi sebenarnya sudah mengetahui dalang di balik pembunuhan Altantuya.

"Saya tidak tahu apakah hanya satu orang atau lebih dari itu. Kami harap polisi menyelidiki lebih jauh. Identitas orang itu terlalu jelas dan penting. Seharusnya nama itu tak diabaikan dalam penyelidikan sebelumnya," kata Ramkarpal.

Pada Selasa, Setev juga sempat menyinggung bahwa pemerintahan sebelum Mahathir terkesan "melakukan segala cara" untuk mencegah pengungkapan fakta.

Kasus pembunuhan Altantuya ini adalah salah satu isu yang merongrong pemerintahan mantan Perdana Menteri Najib Razak.

Model Mongolia itu adalah kekasih orang kepercayaan Najib, Abdul Razak Baginda. Ia membantu Abdul dalam kesepakatan pembelian kapal selam dari Perancis, proyek yang diduga memberikan keuntungan jutaan euro untuk orang kepercayaan Najib tersebut.
Pada Oktober 2006, perempuan yang sedang hamil itu diculik di depan rumah Baginda di Kuala Lumpur dan dibawa ke sebuah hutan di daerah Subang, Malaysia. 

Di sana, Altantuya ditembak dua kali dengan senapan semi-otomatis. Jasadnya kemudian diledakkan dengan bahan peledak kelas militer.

Dua anggota kepolisian yang pernah menjadi ajudan Najib, Sirul Azhar Umar dan Azilah Hadri, dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan Altantuya.

Dalam proses persidangan, Sirul mengaku hanya bertugas membawa Altantuya ke lokasi yang sudah ditentukan dan tidak membunuh model itu. Menurut Sirul, orang yang mengeksekusi Altantuya adalah Azila.
Namun, Sirul dan Hadri tetap dijatuhi hukuman mati pada persidangan pada 2009 lalu. Sirul kemudian kabur ke Australia pada 2014, saat bebas bersyarat ketika masih mengajukan banding ke pengadilan.

Nama Sirul pun masuk dalam daftar merah Interpol, kemudian ditangkap di Queensland, Australia, atas tuduhan melebihi izin tinggal visa turis. Sejak saat itu, ia ditahan di pusat detensi Villawood, Sydney.

Setelah menang dalam pemilu bersejarah pada Mei lalu, Mahathir langsung bertekad membuka kembali penyelidikan kasus ini. Ia pun mengupayakan ekstradisi Sirul.

"Sirul tidak bisa kembali ke Malaysia karena Australia tidak akan mengizinkan seseorang yang menghadapi hukuman mati pulang. Kami bisa mencabut hukuman mati itu, tapi menggantinya dengan penjara," kata Mahahtir.  (has/has)