Dukungan ini disampaikan langsung oleh Mahathir saat bertemu dengan ayah Altantuya, Setev Shaariibuu, di kantornya pada Rabu (20/6).
"Dia [Mahathir] mendukung pembukaan kembali penyelidikan jika ada bukti baru selama sesuai dengan hukum, yang menurut saya tepat. Kami setuju," ujar pengacara Setev, Ramkarpal Singh, setelah menemani kliennya bertemu dengan Mahathir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada harapan untuk menyelesaikan masalah ini karena ada petunjuk baru kasus ini. Kami senang dengan pertemuan [bersama Mahathir] ini dan optimistis akan mendapatkan hasil lebih baik segera," ucap Ramkarpal.
Lihat juga:Ayah Altantuya Akan Bertemu Mahathir Besok |
"Saya tidak tahu apakah hanya satu orang atau lebih dari itu. Kami harap polisi menyelidiki lebih jauh. Identitas orang itu terlalu jelas dan penting. Seharusnya nama itu tak diabaikan dalam penyelidikan sebelumnya," kata Ramkarpal.
Pada Selasa, Setev juga sempat menyinggung bahwa pemerintahan sebelum Mahathir terkesan "melakukan segala cara" untuk mencegah pengungkapan fakta.
Kasus pembunuhan Altantuya ini adalah salah satu isu yang merongrong pemerintahan mantan Perdana Menteri Najib Razak.
Model Mongolia itu adalah kekasih orang kepercayaan Najib, Abdul Razak Baginda. Ia membantu Abdul dalam kesepakatan pembelian kapal selam dari Perancis, proyek yang diduga memberikan keuntungan jutaan euro untuk orang kepercayaan Najib tersebut.
Di sana, Altantuya ditembak dua kali dengan senapan semi-otomatis. Jasadnya kemudian diledakkan dengan bahan peledak kelas militer.
Dua anggota kepolisian yang pernah menjadi ajudan Najib, Sirul Azhar Umar dan Azilah Hadri, dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan Altantuya.
Dalam proses persidangan, Sirul mengaku hanya bertugas membawa Altantuya ke lokasi yang sudah ditentukan dan tidak membunuh model itu. Menurut Sirul, orang yang mengeksekusi Altantuya adalah Azila.
Nama Sirul pun masuk dalam daftar merah Interpol, kemudian ditangkap di Queensland, Australia, atas tuduhan melebihi izin tinggal visa turis. Sejak saat itu, ia ditahan di pusat detensi Villawood, Sydney.
Setelah menang dalam pemilu bersejarah pada Mei lalu, Mahathir langsung bertekad membuka kembali penyelidikan kasus ini. Ia pun mengupayakan ekstradisi Sirul.
"Sirul tidak bisa kembali ke Malaysia karena Australia tidak akan mengizinkan seseorang yang menghadapi hukuman mati pulang. Kami bisa mencabut hukuman mati itu, tapi menggantinya dengan penjara," kata Mahahtir. (has)