Iklan Piala Dunia Lecehkan Perempuan, Burger King Minta Maaf

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 18:04 WIB
Iklan Piala Dunia Lecehkan Perempuan, Burger King Minta Maaf Ilustrasi Burger King. (REUTERS/Jacky Naegelen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Restoran cepat saji Burger King meminta maaf setelah membuat sayembara berhadiah US$47 ribu atau Rp663 juta bagi perempuan Rusia yang bisa dihamili oleh pemain bola selama Piala Dunia 2018.

Tak hanya uang puluhan ribu dolar, perusahaan juga menjanjikan burger gratis seumur hidup bagi pemenang.

Iklan tersebut dimuat di media sosial serupa Facebook yang beroperasi di Rusia, VK. Tidak lama beredar, promosi itu langsung menuai kritikan dan kecaman hingga memaksa perusahaan menghapusnya dan meminta maaf.


Burger King Rusia pun tak lama merilis permintaan maaf mereka melalui pernyataan di VK dan mengatakan bahwa perusahaan telah menghapus seluruh material iklan tersebut.
Seperti dilansir CNN, dalam pernyataannya, Burger King Rusia juga mengakui bahwa promosi sayembara itu merupakan "tindakan yang menghina".

Menurut kantor berita Rusia, Interfax, perusahaan waralaba utama Burger King Rusia adalah Burger Rus LLC.

Baik Burger Rus maupun Burger King tidak kunjung memberikan konfirmasi terkait hal ini sampai berita ini diturunkan.

Sebagai tuan rumah, Rusia tengah bersuka-cita menyambut gelaran pesta sepakbola dunia empat tahunan yang akan berlangsung 14 Juni hingga 15 Juli mendatang.
Selain masalah keamanan, Rusia juga terus memantau isu-isu lainnya termasuk isu sosial yang berpotensi muncul selama Piala Dunia berlangsung.

Awal bulan ini, seorang anggota parlemen Rusia, Tamara Pletnyova, mengimbau perempuan di negaranya untuk tidak berhubungan seks dengan lelaki asing yang tengah berkunjung selama gelaran akbar sepak bola.

Pletnyova mengatakan "wanita Rusia harus melahirkan anak" dari pria asal negeri sendiri.

Dalam wawancara di radio Govorit Moskva, Pletnyova juga menyatakan kekhawatirannya akan peningkatan tren jumlah perempuan yang menjadi orang tua tunggal di Rusia.
Dia mengatakan warga Rusia harus menikah dengan sesama warga negara dan "membangun keluarga serta mendidik anak" secara baik.

Dalam kesempatan itu, Pletnyova juga mengangkat isu peningkatan kelahiran anak Rusia dari ayah berkewarganegaraan asing sejak Olimpiade Moskow 1980 silam.

"Anak-anak ini kemudian menderita bahkan sejak masa Uni Soviet. Anda tahu ini sangat baik. Tidak apa-apa jika satu ras, tetapi menjadi masalah jika lahir dari berbeda ras.

"Saya bukan seorang nasionalis, tapi tetap saja. Saya mengerti bahwa anak-anak menderita, lalu mereka ditelantarkan dan ya begitu, mereka tinggal hanya dengan ibu mereka di sini."



(aal)