Menjawab komentar Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menyebut aliran imigran ke Eropa telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, Wakil Perdana Menteri Italia Luigi di Maio menyebut pernyataan itu menunjukkan bahwa Macron telah kehilangan sentuhan.
"Italia memang menghadapi darurat imigrasi dan hal itu salah satunya akibat Perancis yang terus mengusir orang-orang di perbatasan. Macron bisa membuat negaranya jadi musuh nomor satu Italia dalam keadaan darurat ini," kata Di Maio dalam laman Facebook, Minggu (24/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Iklan Tampilkan Imigran, Benetton Diprotes |
"Negara seperti Italia tidak mengalami tekanan imigrasi seperti tahun lalu ... Krisis yang kami alami hari ini di Eropa adalah krisis politik."
Namun, Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini mengatakan engaranya dihadapkan pada 650 ribu kedatangan lewat jalur laur dalam empat tahun terakhir, 430 ribu permohonan suaka dan menampung 170 ribu "terduga pengungsi" dengan biaya lebih dari 5 miliar euro (Rp82 triliun).
"Jika ini bukan masalah bagi Presiden Macron yang arogan, kami memintanya untuk berhenti menghina dan alih-alih menunjukka kedermawanan konkret dengan membuka banyak pelabuhan Perancis dan membiarkan anak-anak, lelaki dan perempuan masuk lewat Ventimiglia," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
"Anda tak bisa mempunyai negara yang mendapat keuntungan besar dari solidaritas Uni Eropa dan secara masif menyuarakan keegoisan nasionalnya dalam persoalan imigran," kata dia, menyindir Hungaria, Polandia dan Republik Ceko yang menentang skema relokasi pencari suaka dari UE.
(aal)