Dia unggul dari rival terberatnya Muharrem Ince dari Partai Rakyat Republik (CHP) yang hanya mengantongi 27 persen suara.
Erdogan butuh kemenangan lebih dari 50 persen suara dalam pemilu tahap pertama untuk mempertahankan kursi kepresidenan yang telah ia duduki sejak 2014. Adapun keunggulannya dalam penghitungan sementara ini masih terlalu dini untuk menggambarkan hasil akhir pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunggulan sementara Erdogan diikuti oleh partainya, AKP. Dari 10 persen suara yang masuk, AKP meraih suara terbanyak, namun tetap masih bisa berubah drastis.
Selama masa kampanye, Erdogan mendapat tantangan serius dari Ince yang disebut-sebut mampu mengimbangi kharisma petahana.
"Saya akan melindung hak kalian. Semua yang kita inginkan adalah kompetisi yang fair," lanjut Ince setelah memberikan suaranya.
Erdogan sendiri memberikan suaranya di Istanbul bersama menantunya yang juga menjabat Menteri Energi Berat Albayrak. Erdogan berharap jumlah pemilih tinggi untuk mengetahui seberapa matang iklim demokrasi Turki.
CHP mengklaim telah merekam berbagai pelanggaran khususnya di Provinsi Sanliurfa, namun Erdogan menegaskan tak ada masalah besar dalam pelaksanaan pemilu.
Erdogan salah satu sosok yang memimpin langsung perubahan penting di Turki sejak partainya berkuasa pada 2002 silam. Namun sejumlah kritik tertuju pada Erdogan yang dianggap telah mengekang kebebasan dan memimpin dengan cara otoriter. (wis)