Ishadi SK
Penulis adalah Komisaris Transmedia dan praktisi televisi.

Belajar dari Mahathir Mohamad dan Malaysia Incorporated

Ishadi SK, CNN Indonesia | Rabu, 04/07/2018 14:00 WIB
Belajar dari Mahathir Mohamad dan Malaysia Incorporated (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Catatan: Artikel ini saya tulis pada 4 September 2005. Waktu itu Dr. Mahathir Mohammad masih berusia 79 tahun. Namun demikian apa yang telah dilakukannya sepanjang 24 tahun menjadi Perdana Menteri Malaysia sangat mengesankan, khususnya dalam membangun perekonomian Malaysia. Tulisan ini saya angkat lagi sekedar untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh Mahathir Mohammad untuk Malaysia, sebuah prestasi yang sangat mengesankan. Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukannya dalam membangun Malaysia ini menjadi inspirasi untuk siapa pun yang kelak memimpin bangsa ke depan: kerja kerasnya, visinya, dan kepemimpinannya.

Beberapa politisi Indonesia seharusnya terinspirasi oleh Mahathir Mohamad terkait apa yang sudah dilakukannya untuk Malaysia dan bukan yang lain. Anda mestinya tahu Dr. Mahatir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang berkuasa selama 24 tahun ( 1978-2004). Ia kini kembali berada di puncak kepemimpinan Malaysia setelah menang dalam pemilu Mei lalu. Namun pastilah Anda tidak tahu nama lengkap dan gelarnya.

Pada dinding lobi hotel Nikko, Kuala Lumpur, tertulis namanya secara lengkap tatkala meresmikan hotel itu pada 22 Juli 1996. Di situ tertera: "YAB Dato Seri Dr. Mahathir bin Mohammad, DK (Perlis), DK (Johor), Duk, SSDK, SSAP, SPMS, SPMJ, DP (Serawak), DUPN, SPNS, SPDK, SPCM, SSMT, DUNM, DIS, Prime Minister Of Malaysia." Lumayan panjang kan? Itu adalah gelar resmi, karena dipajang secara permanen di sebuah Prasasti di lobi sebuah hotel bintang lima, di ibu kota negara.


Setelah mencari referensi kesana kemari penjelasannya adalah sebagai berikut: YAB Kepanjangan dari Yang Amat Berhormat. DK (Perils), DK (Johor), DP (Serawak). DK kepanjangan dari Drajat Kehormatan. DP: Drajat Pemangku, adalah gelar yang dianugerahkan oleh masing masing negara bagian (Kesultanan) yang bersangkutan.

Malaysia memang merupakan Negara Federasi Kerajaan yang terdiri atas 13 negara bagian, masing-masing dipimpin oleh seorang Sultan. Kesultanan ini kemudian menunjuk pemimpin di antara mereka setiap empat tahun sekali yang bergelar: Yang Dipertuan Agung Malaysia.
The Malaysia's Supreme Ruler saat itu adalah Sultan Perlis-yang terpilih sebagai Yang Dipertuan Agung Malaysia. Nama dan gelar secara lengkap adalah: Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang Di Pertuan Agong Tuanku Syed Sirajuuddin ibni al-Marhum Syed Putra Jamalullail.

Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, adalah tiga negara yang memperoleh kemerdekaan dari Inggris secara damai. Tidak ada revolusi, tidak ada perubahan struktural birokrasi. Birokrasi pemerintahan berjalan dengan tertib, aman dan damai. Meskipun secara politik diliputi oleh suasana autokrasi yang ketat, ketiga negara berkembang dalam sistem birokrasi dan pengawasan yang terkendali.

Selama 40 tahun tercapai tingkat kemakmuran rata rata yang demikian tinggi sehingga tidak pernah terjadi gejolak politik yang berarti. Pada 1961, empat tahun setelah kemerdekaan, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdur Rahman membentuk Negara Persekutuan Malaysia, yang terdiri atas: Semenanjung Malaya, Sabah, Serawak dan Singapura.

Mahathir ketika berkunjung ke Jakarta 29 Juni lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Empat tahun setelah itu di bawah tekanan Presiden Sukarno, Singapura melepaskan diri dari Malaysia dan menjadi negara republik yang berdiri sendiri.

Malaysia yang kemudian hanya terdiri dari Malaysia Semenanjung plus Sabah dan Serawak, bersatu di bawah kepemimpinan Tunku Abdul Rahman yang segera setelah pemisahan ini mendirikan Partai UMNO (United Malay National Organization) sebagai kendaraan politiknya.

Tatkala Mahathir memimpin pemerintahan (1978- 2004), Malaysia berhasil meraih kemajuan ekonomi dan politik yang amat pesat. Mengikuti pula Singapura, negara kecil tetangganya.
Pemikiran paling visioner Mahathir adalah apa yang disebut sebagai "Malaysia 2020", yang disampaikannya pada 1995.

Konsepnya ialah menjadikan Malaysia tahun 2020 sebagai negara yang tingkat kemajuan dan pendapatan rakyatnya setera dengan negara-negara Eropa. Keistimewaan Mahatir selain sebagai seorang visioner, ia juga seorang pemimpin yang mampu melaksanakan visinya itu secara terencana dan konsisten.

Pada 2005, 15 tahun sebelum 2020 yang dicanangkannya itu, pertumbuhan ekonomi tahunan mencapai tujuh persen, praktis telah melewati masa krisis moneter 1997, sementara banyak negara di Asia belum bisa pulih sepenuhnya.

Infrastruktur transportasi, komunikasi darat, laut, udara telah selesai dibangun. Pusat tenaga listrik telah siap memasuki era industrialisasi yang sudah diambang pintu. Income per capita rata-rata mencapai US$7.000 per tahun. Bahkan negara bagian Johor telah mencapai US$20.000, sama dengan beberapa negara Eropa.

Tingkat pengangguran nol persen. Malaysia harus terpaksa mengimpor jutaan tenaga kerja asing dari berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

Pada 1980, Malaysia mengirim 500 ribu siswa tamat SMA untuk melanjutkan pelajaran di berbagai universitas di Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan negara lain, sepenuhnya ditanggung negara.

Tenaga lulusan luar negeri yang banyak itu lalu menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi Malaysia. Putra Jaya The Cyber City yang menjadi semacam Silicon Valley-nya Malaysia telah selesai dibangun. Di kawasan ini terdapat pusat kegiatan pemerintah serta pusat pengendalian komputer dan cyber space yang terbentang di segenap kota besar Malaysia.


Perusahaan minyak Petronas, yang dulu dibantu Pertamina kini telah menjadi perusahaan minyak raksasa yang membangun kilang minyak diberbagai tempat dan berinvestasi di 40 negara. Jauh mengungguli Pertamina yang makin terseok-seok.

Menyadari bahwa stabilitas dalam negeri dan keamanan Malaysia bisa menjadi daya tarik wisatawan khususnya negara-negara Islam dari Timur Tengah, Malaysia menggulirkan program kampanye "Malaysia Truly Asia" yang dirancang oleh Dato Sri Abdul Kadir Bin Hj Sheikh Fadzir (saat itu menjabat Menteri Penerangan Radio dan Televisi). Kampanye ini berhasil menjadikan Malaysia tujuan wisata terbesar di Asia setelah China dan Thailand.

Mahathir terpilih kembali menjadi perdana menteri Malaysia di usianya yang ke-92. (Reuters/Lai Seng Sin)

Proton, pabrik mobil Malaysia bekerja sama dengan Daihatsu Jepang, merupakan produk kebanggaan Mahathir. Kala Indonesia mengembangkan industri peswat terbang--namun gagal karena kurangnya dukungan dana dan krisis moneter--Malaysia sukses dengan produksi mobil ini.

Meskipun memiliki pasar domestik yang relatif kecil, penjualan di awal tahun pertama sukes karena pemerintah melakukan "pemaksaaan" agar pejabat negara dan setiap pihak yang berhubungan dengan pemerintah menggunakan produk Proton. Di tahun ke-10 produksinya, Proton telah diekspor ke 67 negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Produk Mahathir lainnya yang sukses besar adalah menjadikan Malaysia terjaring dalam jaringan cyber space. Dengan memperbesar kapasitas hub ke satelit menjadi ribuan mega, dan membuat Kuala Lumpur siap menjadi pusat teknologi informasi terpenting di Asia setelah Taiwan.


Dan tatkala ribuan orang dari dalam maupun luar negeri datang berkunjung ke Kuala Lumpur di hari peringatan kemerdekaan Malaysia Independence Day (15 Agustus 2005), untuk berbelanja karena pemerintah menjadikan minggu itu hari diskon nasional--lengkaplah kejayaan Malaysia sebagai negara yang aman sejahtera dan makmur sentosa.

Jutaan orang datang pada hari itu untuk ikut merayakan kemerdekaan Malaysia sambil mengagumi bangunan kembar menara Petronas, yang ketika itu merupakan bangunan tertinggi di dunia, sekaligus untuk belanja.

Lewat sistem insentif fiskal dan pajak tertentu, setiap toko memberi diskon hingga 50 persen. Suasananya mirip 'Christmas Sale' di AS. Jutaan wisatawan yang belanja menghabiskan ratusan juta dolar yang segera pula akan memperkuat neraca dolar negeri itu.

Sebuah upaya yang amat kreatif dan mempunyai nilai entrepreneurship yang tinggi, meski dirancang oleh para birokrat negeri itu.

Tidak heran karena di bawah kepemimpinan Mahathir, Malaysia sejak sepuluh tahun terakhir telah mencanangkan Malaysia Incorporated. Artinya semua pihak, birokrat, aparat negara, lembaga legislatif harus berupaya mendukung sektor bisnis--bersatu dan menjadikan Malayisa berkompetisi di tataran perdagangan dunia.

Tidak hanya dengan mendorong, memotivasi, namun juga membuat peraturan dan keputusan yang mendukung setiap usaha bisnis dan tidak 'memeras'-nya. Tatkala berbicara dalam Forum Pengusaha Asia di Bali pada Januari tahun sebelumnya, Mahathir berbicara tentang Malaysia Incorporated ini.

Pemerintah Malaysia dan segenap jajarannya akan memfasilitasi, mendukung dan mendorong setiap usaha swasta di Malaysia untuk maju dan berkembang. Karena kalau sektor usaha ini sudah kuat dan maju serta mampu bersaing di pasar internasional--pada akhirnya seluruh bangsa akan menikmati lewat peluang lapangan kerja, stabilitas ekonomi yang di hasilkannya dan perolehan pajak yang meningkat.

Pidato yang mendapat sambutan terbaik itu cermin dari sikap dan pandangan seorang pemimpin yang tidak hanya visioner namun juga mampu mewujudkan visinya dalam tataran praktis.
(stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS