Ankara Murka Israel Dakwa Wisatawan Turki terkait Hamas

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 13:36 WIB
Ankara Murka Israel Dakwa Wisatawan Turki terkait Hamas Menlu Mevlut Cavusoglu bersumpah akan membalas Israel atas dakwaan terhadap seorang wisatawan asal Turki yang dituding terkait Hamas. (Anadolu/Arif Hüdaverdi Yaman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Israel mendakwa seorang wisatawan Turki atas tudingan membantu menyelundupkan uang dan sejumlah paket kepada kelompok bersenjata Palestina, Hamas. Kasus ini membuat Ankara murka dan bersumpah akan membalas.

Ebru Ozkan (27), telah ditahan sejak bulan lalu, ketika ia hendak menaiki pesawat di Tel Aviv, karena diduga menyelundupkan lima botol parfum. Pengacara menyebut hal itu sepele dan kliennya mesti segera dibebaskan.

Kasus ini semakin merenggangkan hubungan Israel dan Turki, dua negara sekutu Amerika Serikat yang sempat berhubungan baik. Kedua negara mulai berselisih paham setelah Presiden Tayyip Erdogan yang berpandangan islamis memperkuat kekuasaannya di Turki.


Ozkan digiring, dibelenggu, ke sebuah pengadilan militer yang berbatasan dengan daerah penjajahan Tepi Barat. Di sana, ia didakwa atas dua pasal tuduhan membantu kelompok terlarang, satu terkait penyaluran dana untuk agen lawan, dan satu terkait mengancam ketertiban umum.
Jika divonis bersalah, dia terancam hukuman penjara selama beberapa tahun.

Meski dia juga dituding membawa barang-barang lain, jaksa mengutamakan penyelundupan lima botol parfum yang diyakini hendak dijual untuk mendanai Hamas.

Merespons dakwaan, pengacara Ozkan, Omara Khamaisi, mengatakan kepada Reuters di luar persidangan: "ayolah, yang benar saja?"

"Saya rasa dalam kasus ini putusannya akan sepenuhnya jadi putusan yang berani-membebaskannya, saya harap."
Khamaisi mengatakan Ozkan tak diizinkan mendapatkan bantuan hukum hampir sepanjang masa tahanan, dan tak diperiksa menggunakan bahasa Turki, sehingga mengakibatkan perbedaan arti pada jawaban yang ia berikan.

Dakwaan tak menyebut spesifik lokasi pelanggaran hukum yang dipersoalkan. Khamaisi mengatakan Ozkan telah menghabiskan tiga hari di Yerusalem selama berkunjung ke negara itu.

Belum ada komentar dari Hamas, kelompok penguasa Jalur Gaza. Kelompok itu di dinyatakan sebagai teroris oleh Israel dan negara Barat, tapi tidak oleh Turki.

Ketika ditanya soal kasus Ozkan, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu merujuk kepadanya sebagai "saudari kami" dan menuding Israel "mengambil langkah penangkalan atas kunjungan warga sipil kami ke Yerusalem."
"Walau demikian, kami akan membalas ini. Hubungan kami akan membaik ketika Israel menghentikan kebijakan biadabnya," ujarnya tanpa menjelasakan lebih lanjut.

Turki dan Israel sempat mempunyai kerja sama keamanan yang kokoh. Namun, hubungan kedua negara memburuk dalam satu dekade terakhir, saat Ankara mengecam tiga perang di Gaza. Keadaan makin parah setelah serbuan tentara Israel ke sebuah kapal bantuan Turki, menewaskan sembilan aktivis.

Umat Muslim hanya jadi sebagian kecil dari total wisatawan yang berkunjung ke Israel. Pada 2016, sebagian besar di antara mereka, sekitar 100 ribu orang, berasal dari Turki.

(aal)