Putin Sebut Demokrasi Amerika Kotor

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 12:30 WIB
Putin Sebut Demokrasi Amerika Kotor Presiden Vladimir Putin menganggap penyelidikan dugaan intervensi Rusia dalam pemilu AS pada 2016 adalah
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Vladimir Putin menganggap penyelidikan dugaan intervensi Rusia dalam pemilihan umum Amerika Serikat 2016 adalah "permainan politik internal" dalam demokrasi yang kotor.

"Cukup jelas bagi saya bahwa ini hanya soal persaingan politik internal dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari demokrasi Amerika karena menggunakan metode kotor dan persaingan politik seperti itu," ujar Putin.

Putin menyampaikan pernyataan ini dalam wawancara khusus bersama Fox News tak lama setelah dia bertemu dengan Presiden Donald Trump di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7). 
Dalam wawancara itu, Putin mengaku bahwa dirinya "tak peduli sedikit pun" terhadap penyelidikan yang dipimpin oleh Robert Mueller itu.


Dia juga mengatakan tak peduli terkait dakwaan jaksa independen itu terhadap 12 agen intelijen Rusia yang diduga meretas sistem komputer Partai Demokrat saat kampanye 2016 lalu.

"Saya tidak tertarik dengan masalah ini sedikit pun," kata Putin melalui seorang penerjemah, seperti dikutip AFP, Selasa (17/7).
Putin berharap penyelidikan besar-besaran oleh jaksa independen Robert Mueler itu tak merusak hubungan Rusia dan AS.

"Ini permainan politik internal Amerika Serikat. Jangan buat hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat tersandera persaingan politik internal ini," katanya.
 
Pertemuan puncak perdana Trump dan Putin terus menjadi sorotan di saat publik masih mempertanyakan kebenaran dugaan intervensi Rusia untuk memenangkan Trump dalam pemilihan presiden 2016.
Saat bertemu Putin, Trump tak mempertanyakan lebih lanjut soal dugaan intervensi Rusia dalam pemilu tersebut. Ia malah menekankan bahwa dirinya menang pemilu dengan adil dan jujur tanpa bantuan intervensi Rusia.

Dalam pernyataan pers bersama Putin usai KTT, Trump bahkan membantah temuan badan intelijennya sendiri, yang menyimpulkan bahwa Kremlin benar-benar terlibat upaya merusak elektabilitas Hillary Clinton, rivalnya saat kampanye.

Trump selama ini berulang kali menganggap penyelidikan Mueller sebagai omong kosong. (has)