Pertama, Sekolah Pilot Saudi Terima Murid Wanita

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 12:00 WIB
Pertama, Sekolah Pilot Saudi Terima Murid Wanita Ilustrasi pilot. (Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu sekolah penerbangan di Arab Saudi, Oxford Aviation Academy, mulai membuka pendaftaran bagi siswa perempuan, Senin (16/7). Langkah ini menandai semakin terbukanya negara konservatif Islam tersebut terhadap peran wanita dalam masyarakat.

Sejauh ini, Oxford Aviation Academy telah menerima ratusan pendaftar wanita yang akan memulai pendidikan di semester baru pada September mendatang.

"Orang-orang biasanya pergi keluar negeri (untuk belajar di sekolah penerbangan), yang tentunya lebih sulit bagi kaum wanita dari pada laki-laki," kata Dalal Yashar, salah satu perempuan yang ikut mendaftar di sekolah penerbangan terkemuka di Saudi itu, kepada Reuters, Selasa (17/7).



"Kami tidak lagi hidup di era itu di mana wanita hanya diperbolehkan (bekerja) di bidang tertentu. Semua jalan sekarang terbuka untuk wanita. Jika anda memiliki nafsu makan, maka anda memiliki kemampuan [untuk melakukan apa pun]," ucap Dalal menambahkan.

Oxford Aviation Academy merupakan bagian dari proyek bernilai US$300 juta dengan fasilitas lengkap mulai dari sekolah pemeliharaan pesawat terbang hingga pusat simulator penerbangan internasional.

Direktur Eksekutif Oxford Aviation Academy, Othman al-Moutairy, mengatakan siswa akademi akan menjalani tiga tahun pendidikan teori dan praktik sebelum dinyatakan lulus dan menerima sertifikasi penerbangan.


Dengan diberikannya kesempatan bagi kaum wanita, Saudi siap mencetak pilot-pilot handal perempuan pertama mereka. Penerimaan siswa perempuan ini dilakukan sebulan setelah Kerajaan Saudi menghapus larangan mengemudi bagi kaum wanita yang telah berlaku selama puluhan tahun.

Larangan tersebut selama ini dipandang aktivis sebagai simbol represi terhadap kaum perempuan di negara itu.

Pencabutan larangan itu merupakan bagian dari reformasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang telah digaungkan Pangeran Mohammad bin Salman sejak diangkat sebagai Putra Mahkota Saudi oleh Raja Salman sekitar pertengahan 2017 lalu.

Sejak itu, Pangeran Mohammad berjanji ingin lebih memoderatkan Saudi. Ia bahkan tak segan menerapkan sejumlah kebijakan yang mendobrak tradisi kerajaan, salah satunya dia sempat menangkap belasan pangeran Saudi dalam upaya memberantas korupsi.


Langkah Saudi menuju arah yang lebih moderat ini pun banyak disambut oleh sejumlah kelompok aktivis serta negara-negara Barat pro-demokrasi.

Meski begitu, sejumlah pemerhati HAM masih khawatir karena Saudi sempat menahan sejumlah aktivis yang selama ini memperjuangkan hak-hak perempuan walau akhirnya telah dibebaskan. (nat)