Situs Bersejarah, Arab Saudi Apresiasi Dukungan RI di UNESCO

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 03/07/2018 04:00 WIB
Situs Bersejarah, Arab Saudi Apresiasi Dukungan RI di UNESCO Mada'in Saleh merupakan peninggalan sejarah pertama di Arab Saudi yang diakui UNESCO dalam daftar World Heritage Site pada 2008. ( Dok. KBRI Riyadh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerajaan Arab Saudi menyampaikan apresiasi besar kepada Pemerintah Republik Indonesia yang telah memberikan dukungan kepada Arab Saudi yang sukses memasukkan salah satu situs bersejarah, Oasis Al-Ahsa dalam daftar Warisan Dunia (World Heritage) UNESCO.

Dukungan tersebut diberikan oleh Indonesia dalam Forum the 42nd session of the World Heritage Committe di Manama Bahrain pada 24 Juni-4 Juli 2018.

Oasis Al-Ahsa adalah situs alam terletak di wilayah timur Arab Saudi yang menurut penelitian arkeologi sudah ada sejak berabad-abad sebelum Masehi.


Ucapan terimakasih tersebut disampaikan lewat Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel via telepon oleh Pangeran Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud sebagai Presiden al-Hai'ah al-Amah li as-Siyahah wal Turas al-Watany (Badan Pariwisata dan Peninggalan Nasional Arab Saudi), Sabtu sore 29 Juni 2018.


Delegasi Indonesia bersama  20 negara anggota komite paling bergengsi tersebut menyetujui Oasis Al-Ahsa dimasukkan ke dalam daftar Warisan Dunia. Ketua Delegasi Indonesia dipercayakan kepada Dr. Hotmangaradja Pandjaitan, Dubes LBBP RI Paris/Watap RI UNESCO.

Beberapa situs peninggalan sejarah Saudi masuk dalam World Heritage Site UNESCO. Mada'in Saleh merupakan peninggalan sejarah pertama di Saudi yang diakui UNESCO dalam daftar World Heritage Site pada tahun 2008.

Selain itu terdapat pula Distrik At-Turaif di Dir'iyah (2010), Historic Jeddah-Gerbang ke Makkah/Baabul Makkah (2014), serta  lukisan purba atau Rock Art di Ha'il (2015).

Yang terbaru, UNESCO memasukan Oasis Al-Ahsa dalam daftar World Heritage List pada Sidang ke-42 World Heritage Committee di Manama, Bahrain, 29 Juni 2018.

Forum the 42nd session of the World Heritage Committe UNESCO di Manama, Bahrain.Foto: Dok. KBRI Riyadh
Forum the 42nd session of the World Heritage Committe UNESCO di Manama, Bahrain.


Maftuh menjelaskan bahwa dari sekian warisan sejarah tersebut yang paling kontroversial adalah situs Mada'in Saleh yang diyakini sebagai kota kaum Tsamud yang dilaknat dan dikutuk karena durhaka kepada Tuhan.

Banyak ulama konservatif Saudi yang melarang bahkan mengharamkan untuk mengunjungi situs ini. Namun setelah dilakukan kajian yang komprehensif akhirnya Kerajaan Saudi membuka kawasan Mada'in Saleh ini sebagai destinasi wisata.

"Kami pernah berkunjung ke situs ini dengan fasilitas pesawat khusus dari Kerajaan Saudi, menyaksikan dari dekat gunung-gunung batu yang dipahat seperti Petra Yordania namun belum begitu tertata rapi," kata Dubes Abegebriel dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (2/7).
,
"Kami saksikan juga sebuah sumur yang diyakini sebagai tempat minum onta Nabi Saleh, 3000 thn sebelum Masehi. Ini semua adalah lompatan besar dalam sejarah peradaban Saudi yang mulai melangkah dari penafsiran tekstual yang kaku dan rigid menuju sebuah pemahaman yang moderat," papar Abegebriel.


Dalam pembicaraan dengan Pangeran Sultan, putra kedua Raja Salman yang juga astronout pertama Saudi tersebut, Dubes Abegebriel menegaskan bahwa Indonesia siap bekerja sama dalam merawat situs-situs kuno sebagai peninggalan budaya yang harus dilestarikan.

Lebih lanjut Dubes Abegebriel yang juga Dosen UIN Sunan Kalijaga ini meyakinkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam konservasi dan pelestarian budaya leluhur seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang sudah lama masuk dalam daftar warisan UNESCO.

Semangat Saudi dalam merawat situs-situs kuno sebagai produk peradaban masa lalu tersebut juga ditegaskan oleh Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman, yang juga adik dari Pangeran Sultan bin Salman dimana Saudi akan serius mengkampanyekan Islam moderat yang mampu berdialog dengan peradaban semua bangsa," kata Dubes Abegebriel.

Tidak hanya situs-situs purba yang akan dijadikan destinasi wisata oleh Saudi, akan tetapi pasar-pasar jahiliyah (pra-Islam) pun akan mendapat perhatian serius.

Dubes RI Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel bersama istri saat berkunjung ke Mada'in Saleh.Foto: Dok. Istimewa
Dubes RI Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel bersama istri saat berkunjung ke Mada'in Saleh.


Salah satunya adalah Souq Ukaz (pasar Ukaz) yang merupakan pasar populer pada masa jahiliyah. Pasar Ukaz ini sangat melegenda di kalangan para penyair saat itu.

"Minggu depan dengan fasilitas pesawat khusus Kerajaan, Insya Allah kami akan berkunjung ke kota budaya Souq Ukaz, di kawasan Thaif," kata Dubes Abegebriel. (nat)