Ribuan Warga Dua Kota Pro-Pemerintah Suriah Dievakuasi

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 11:08 WIB
Ribuan Warga Dua Kota Pro-Pemerintah Suriah Dievakuasi Evakuasi dari Goutha Timur Maret 2018. (AFP PHOTO / Abdulmonam EASSA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan warga dua kota pro-pemerintah Suriah mulai dievakuasi, Kamis (19/7). Kota Fuaa dan Kafraya adalah dua wilayah yang masih terkepung pertempuran antara pemberontak dan pemerintah di Suriah selama tujuh tahun terakhir.

Kota yang dihuni mayoritas umat Syiah terkepung selama bertahung-tahun oleh pemberontak dan kelompok afiliasi Al Qaeda, Hayat Tharir Al-Sham (HTS) selame bertahun-tahun.

Evakuasi warga kota Fuaa dan Kafraya terwujud berkat kesepakatan antara Rusia, yang mewakili pemerintah Suriah dan Turki, yang mewakili pemberontak, Selasa (17/7).


Sejak Rabu (18/7) pagi, sejumlah barikade jalanan menuju kedua kota itu dicabut sehingga puluhan bus-bus dapat masuk.



Sumber HTS dan Syrian Observatory for Human Rights menyatakan sekitar 6.900 warga sipil dan pejuang akan dievakuasoi.

Dilansir kantor berita AFP, tak lama setelah tengah malam bus-bus keluar Kota Fuaa dan Kafraya, masuk ke lokasi di wilayah Suwaghiya.

Para pejuang HTS berdiri di pinggir jalan saat iring-iringan evakuasi meninggalkan kota bersama milisi pro-pemerintah dan warga sipil di dalam bus. Bagian belakang bus penuh dengan koper dan ransel.

Pengamat HAM Suriah yang berbasis di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights memastikan evakuasi tersebut. "Sebanyak 32 bus telah meninggalkan kota dalam gelombang pertama evakuasi, atau sepertiga dari total yang akan dievakuasi," kata Kepala Observatory, Rami Abdel Rahman.


Fuaa dan Kafraya terkepung para pemberontak dan gerilyawan yang menyerbu Idlib dan sekitarnya 2016. Akses ke makanan dan obat-obatan bagi kedua kota itu pun terputus.

Pada April 2017, ribuan orang keluar dari Fuaa dan Kafraya sebagai ganti evakuasi paralel dari kota-kota Zabadani dan Madaya.

Namun sebuah ledakan terjadi dalam konvoi warga dari Fuaa dan Kafraya yang menewaskan 150 orang, sebagian besar warga sipil termasuk 72 anak-anak.

Warga yang trauma khawatir insiden serupa terulang dalam evakuasi kali ini. Karena itu, pengamanan kali ini jauh lebih ketat.



Tepat sebelum tengah malam, ambulans mambawa 15 warga yang sakit dan luka-luka keluar pertama kali menuju penyebrangan Al-Els, yang menghubungkan Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak menuju Aleppo, kota yang dikuasai pemerintah.

Menurut HTS, lebih dari 100 bus akan mengevakuasi 6.900 orang dari Fuaa dan Kafraya sebagai kompensasi dari pembebasan 1.500 tahanan di penjara pemerintah Suriah.

Kesepakatan itu juga menjamin Idlib terhindar dari serangan militer pemerintah Suriah, menurut Observatorium.

Provinsi Idlib yang terletak di barat laut, berbatasan dengan Turki, dikelilingi wilayah pemerintah Suriah. Sedikitnya berpenduduk dua juta orang, termasuk warga sipil dan gerilyawan Suriah yang dipindah dari wilayah yang dikuasai oposisi lainnya.



Aktivis dan kelompok hak asasi manusia memperingatkan perpindahan penduduk seperti itu menyebabkan pemindahan paksa. Karena itu, Palang Merah Internasional menekankan evakuasi harus dilakukan secara suka rela dan warga sipil yang dievakuasi punya hak untuk kembali ke rumahnya.

"Setiap evakuasi di Suriah atau tempat lain harus mengikuti aturan dasar kemanusiaan, warga sipil boleh memilih tetap tinggal atau pergi. Warga sipil harus dilindungi dari serangan setiap saat. Evakuasi bersifat sementara, warga sipil berhak untuk kembali," kata ICRC lewat akun Twitternya.

Konflik di Suriah meletus sejak Maret 2011, diawali dengan aksi protes terhadap Presiden Bashar Al-Assad, yang kemudian berubah menjadi pertempuran berkepanjangan.

(nat)