Gelombang Panas Pecahkan Rekor Suhu di Empat Benua

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 24/07/2018 14:34 WIB
Gelombang Panas Pecahkan Rekor Suhu di Empat Benua Di Jepang, suhu udara memecahkan rekor terpanas yang tercatat sejak medio 1800-an. (Reuters/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cuaca ekstrem pada musim panas terus berlanjut dengan temperatur gelombang panas memecahkan rekor di empat benua non-tropis di belahan bumi bagian utara.

Di Jepang, suhu udara memecahkan rekor terpanas yang tercatat sejak medio 1800-an. Di sebuah kota yang terletak sekitar 64 kilometer dari Tokyo, Kumigaya, temperatur bahkan mencapai 41,1 derajat Celsius.
Tak ayal, gelombang panas ini sudah menelan korban hingga 77 jiwa, sementara 30 ribu warga lainnya dilarikan ke rumah sakit sejak 9 Juli lalu.

Cuaca ekstrem juga berembus di sejumlah negara Asia Timur lainnya, seperti Korea Selatan dan Korea Utara, di mana suhu udara mencapai hampir 40 derajat Celsius.


Temperatur memuncak di Eropa dan Arktik

Sebagian besar belahan Eropa juga terpanggang di bawah tekanan tinggi yang mendorong panas tropis menanjak ke arah Arktik, menghalangi hujan untuk meredakan cuaca ekstrem.

Suhu udara hingga mencapai 32 derajat Celsius melingkupi bagian utara hingga mencapai Skandinavia, memecahkan rekor di Swedia, Finlandia, dan Norwegia.

Gelombang panas ini memicu sejumlah kebakaran lahan di Swedia, memaksa mereka meminta bantuan dari negara lain, seperti Italia yang dianggap memiliki sumber daya lebih memadai untuk memadamkan api.

Di Inggris, musim panas dimulai dengan pemecahan rekor udara paling kering. Met Office mencatat, temperatur lebih tinggi 0,1 derajat Celsius dari musim panas dengan suhu paling tinggi sepanjang sejarah Inggris.
Gelombang Panas Pecahkan Rekor Suhu di Empat BenuaGelombang panas paling kering di Inggris membuat air terus surut. (Reuters/Phil Noble/File Photo)
Pemerintah setempat lantas merilis peringatan waspada kesehatan tingkat tiga untuk bagian negara selatan dan timur. Menurut perkiraaan, suhu udara akan mencapai 30 derajat Celsius pada Jumat mendatang.

Pemecahan rekor suhu udara tertinggi juga terjadi di benua Afrika, tepatnya di Ourgla, Aljazair, di mana temperatur mencapai 51,3 derajat Celsius pada 5 Juli lalu.

Gelombang panas hantam Amerika Utara

Kebrutalan gelombang panas juga menghantam Kanada dengan suhu udara tertinggi di Montreal tercatat hingga 36,6 derajat Celsius pada 2 Juli lalu. Setidaknya 70 orang tewas terkait gelombang panas ini.

Di Amerika Serikat, gelombang panas berembus dari wilayah ramai penduduk di timur laut hingga kawasan gurun di barat daya.

Gelombang panas di Dallas-Fort mengembuskan angin bersuhu 42 hingga 43 derajat Celsius selama empat hari berturut-turut.
Direktur Pusat Sains Sistem Bumi dari Penn State University, Michael Mann, mengatakan bahwa fenomena gelombang panas yang menghantam tepat setelah hujan lebat ini menunjukkan dampak pemanasan global memang nyata.

"Dampak perubahan iklim tak lagi samar. Kita melihat semuanya terjadi dalam bentuk gelombang panas, banjir, kekeringan, dan kebakaran lahan. Kita melihat semuanya sepanjang bulan ini," ujar Mann kepada CNN.

Senada dengan Mann, ilmuwan iklim dari Texas Tech University, Katharine Hayhoe, juga menganggap fenomena alam ini tidak biasa.

"Dingin dan panas, basah dan kering, kita sudah biasa mengalami itu. Namun sekarang, perubahan iklim memberikan ketidakpastian, menimbulkan sejumlah jenis ekstrem, seperti gelombang panas dan hujan lebat, yang lebih sering dan intens dari biasanya," ucapnya. (has/has)