Dengan 48 persen suara terhitung, partai tempat Khan bernaung, Pakistan Tehreek-i-Insaf (PTI), sudah menguasai 113 dari 272 kursi Majelis Nasional yang diperebutkan dalam pemilu pada Rabu (25/7) ini.
Berdasarkan penghitungan Komisi Pemilihan Umum Pakistan (ECP), partai berkuasa di Pakistan, Muslim League-Nawaz (PML-N) unggul di 64 daerah konstituen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski belum mendapatkan jumlah suara yang dibutuhkan, juru bicara PTI, Fawd Chaudhry, sudah mengatakan, "Selamat kepada negara atas Pakistan yang baru! Perdana Menteri Imran Khan."
Ia menganggap ada kecurangan dalam proses penghitungan suara, terutama karena perwakilan dari partainya tak diperbolehkan mengawasi.
Kekhawatiran akan kecurangan ini pertama kali muncul setelah ECP memutuskan untuk menunda proses rekapitulasi karena masalah teknis.
"Meskipun ada masalah teknis, pemilihan umum ini 100 persen adil dan transparan," kata Ketua ECP Sardar Muhammad, Kamis (26/7).
Pemilu kali ini memang dilihat sebagai area persaingan ketat antara PTI dan PML-N. Partai pengusung Nawaz Sharif itu mengklaim menjadi sasaran persekongkolan militer dalam pemilu kali ini.
Sharif dijebloskan ke penjara atas tuduhan korupsi beberapa hari sebelum pemilihan digelar. Saat itu, Sharif dianggap sebagai saingan terberat Khan. Namun, militer berkeras membantah tuduhan tersebut. (has)