Derita Korban Bendungan Jebol Laos: Kami Kehilangan Segalanya

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 15:23 WIB
Derita Korban Bendungan Jebol Laos: Kami Kehilangan Segalanya Banjir menyergap tak menyisakan waktu untuk bersiap, semua telah hilang, rumah dan ternak, ungkap warga Laos korban banjir bandang akibat bendungan jebol. (AFP PHOTO / YE AUNG THU)
Jakarta, CNN Indonesia -- Petchinda Chantamart mendengar suara keras seperti ledakan bom samar-sama di kejauhan. Tak lama dia lalu mendengar suara gemuruh, seperti deru angin kencang. Tiba-tiba dia terkesiap. Instingnya langsung menerka bendungan yang sedang dibangun dekat desanya di Laos Selatan jebol.

Chantamart pun menggedor pintu-pintu tetangganya dan berteriak agar mereka mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.

"Air akan segera datang!" teriaknya keras-keras.


Hanya dalam setengah jam, desanya, Xay Done Khong telah tenggelam di lautan air setinggi sembilan meter dan terus meninggi.

Chantamart, 35, dan para tetangganya termasuk warga yang selamat dari banjir bandang akibat jebolnya bendungan hidroelektrik Xe-Pian Xe-Namnoy bernilai mencapai US$1 miliar. Jebolnya bendungan tersebut akibat hujan lebat pada Senin malam melepaskan lima miliar kubik meter air ke desa-desa di bawahnya.


Perdana Menteri Thongloun Sisoulith menyatakan 131 orang dilaporkan hilang dan lebih dari 3.000 warga kehilangan rumah mereka. Kebanyakan warga menyelamatkan diri dengan naik ke atap-atap rumah dan pepohonan, di saat desa dan lahan pertanian terendam banjir.

Setidaknya 26 warga dilaporkan tewas, lebih dari 130 orang dilaporkan hilang.

"Prioritas utama kami adalah menyelamatkan warga yang terjebak banjir. Langkah berikutnya adalah menemukan dan mengidentifikasikan jasad korban," kata Gubernur Distrik Sanamxay, Bounhom Phommasane, seperti dilansir the Vientiane Times.

Chantamart mengatakan ratusan warga desanya telah menyelamatkan diri, tetapi 15 orang belum ditemukan, sembilan diantaranya anak-anak. Ia tidak sempat mendatangi rumah mereka karena air sudah meninggi.

Derita Warga Laos: Kami Kehilangan SegalanyaFoto: ABC Laos News/Handout via REUTERS


"Jauh di lubuk hati saya, saya sangat khawatir tentang keadaan mereka," kata Chantamart.

Setelah Chantamart dan ratusan orang dari desanya berhasil mencapai daratan yang lebih tinggi, mereka dipindahkan ke Kota Paksong, yang terletak barat dari bagian bendungan, untuk berlindung di gedung kosong yang biasa digunakan untuk menyimpan kopi.

Video yang diunggah kantor berita Thai News Agency yang menunjukkan banyaknya air yang menyembur dari retakan bendungan yang bernama Saddle Dam D.

Kantor berita resmi Lao News Agency melaporkan bahwa bendungan jebol. Seorang juru bicara dari proyek hidroelektrik, SK Engineering and Construction menyatakan bahwa mereka akan menyelidiki apakah bendungan ambruk atau meluap akibat hujan lebat.


International Rivers, kelompok aktivis yang menentang pembangunan bendungan PLTA di Laos, dalam sebuah pernyataan yang diposting secara online menyatakan bendungan runtuh akibat banjir karena diguyur hujan lebat sehingga meluap, Senin (23/7) malam.

Kelompok aktivis yang ingin melindungi sungai-sungai di dunia itu menyatakan bahwa insiden tersebut membuktikan bahwa banyak bendungan tidak didesain untuk menahan cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang terjadi Senin (23/7).

"Cuaca ekstrem dan tidak terduga makin sering terjadi akibat perubahan iklim, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan jutaan orang yang tinggal dekat bendungan," kata International Rivers.

Warga yang tinggal di bawah bendungan baru mendapat peringatan beberapa jam sebelum bendungan jebol.

Derita Warga Laos: Kami Kehilangan SegalanyaFoto: reuters


"Warga tidak memiliki cukup waktu menyelamatkan diri dan keluarganya," kata International Rivers dalam pernyataan tersebut.

"Kejadian tersebut memicu pertanyaan soal standar keselamatan bendungan di Laos, termasuk kelayakan dalam menghadapi kondisi cuaca dan risikonya."

Data otoritas setempat menyatakan tujuh desa di Sanamxay, Provinsi Attapeu, terendam. Lebih dari 6.600 warga kehilangan tempat tinggal akibat runtuhnya bendungan.

Upaya pembersihan akibat banjir bandang kian rumit karena adanya bom dan bahan peledak peninggalan Amerika Serikat di masa Perang Vietnam yang masih terkubur di wilayah tersebut dan masih menghantui Laos selama beberapa dekade terakhir.



Provinis Attapeu, terletak di perbatasan Vietnam dan Kamboja, penuh dengan bahan peledak sisa-sisa perang yang dapat meledak setiap saat, meskipun telah beberapa dekade ditinggalkan.

Banjir membuat bahan peledak-peledak tersebut tak terlihat oleh petugas dekontaminasi. "Ada kekhawatiran pada keselamatan personel pembersihan dan program bantuan bagi penyintas, yang mungkin berada di wilayah tersebut saat ini," kata Mark Hiznay dari aktivis HAM Human Rights Watch di Washington.

Xe-Pian Xe-Namnoy termasuk salah satu dari 70 bendungan pembangkit listri tenaga air (PLTA/Hidroelektrik) yang direncanakan, sedang dalam perencanaan atau sudah dibangun di Laos, kebanyakan dimiliki dan dioperasi oleh perusahaan pribadi, kata International Rivers.

Proyek tersebut terdiri atas beberapa bendungan yang terletak sekitar Sungai Mekong yang besar dan bendungan yang lebih kecil dan tanggul bendungan, seperti bendungan yang jebol.

Derita Warga Laos: Kami Kehilangan SegalanyaFoto: MIME PHOUMSAVANH/via REUTERS


Korea Selatan dan Thailand mengirimkan Tim Bantuan Bencana ke Laos. Beberapa perusahaan dari kedua negara terlibat dalam pembangunan dan pembiayaan Proyek Xe-Pian Xe-Namnoy yang direncanakan bakal menyediakan 90 persen dari listrik yang diproduksi kepada Thailand.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah memerintahkan pengiriman bantuan untuk proses evakuasi. "Penyelidikan penyebab runtuhnya bendungan masih berlangsung, tapi pemerintahan kami tidak akan membuang waktu dan secepatnya membantu proses penyelamatan karena perusahaan negara kami terlibat dalam proses pembangunan," kata Moon.

Korea Western Power Co., yang memiliki kontrak untuk mengoperasi pembangkit listrik saat pembangunan selesai, memberitakan bahwa para pejabat dan pekerja dari SK Engineering & Construction di Laos telah mengikuti proses penyelamatan.

Korea Selatan mengirim satu helikopter dan 11 kapal dan Korea Western Power mengirim dua kapal dan staf medis.


Pada Rabu (25/7) sore, hujan deras mengguyur atap tempat perlindungan darurat di Paksong yang dihuni ratusan pengungsi.

Langit mendung menambah suram suasana. Beberapa ambulans melaju pada waktu senja, terlihat lampu merah dan biru menjauh.

Di dalam tempat perlindungan, orang dewasa dan anak-anak berjalan dalam pakaian dan sandal yang berlumpur, memakan nasi ketan dari mangkok plastik.

Beberapa dari mereka menduduki terpal berwarna biru-dan-jingga yang telah digeletakan pada lantai beton, memakai tatapan kosong.

Sebuah kantin darurat, lengkap dengan pemasak nasi didirikan di tempat parkir gedung tersebut.


Chantamart mengaku tak berharap ada yang tersisa dari rumah atau desanya. "Semua rumah-rumah di desa telah rusak," katanya.

Dia mengaku tak yakin soal siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun dia mengharapkan pemerintah dan perusahaan pembangun bendungan mengambil tindakan untuk membantu para korban.

"Orang-orang di sini merasa terkejut, takut dan sedih karena sama-sama kehilangan," kata Chantamart seperti dilansir situs berita Straits Times. Dia dikelilingi anak-anak yang mengenakan pakaian berlumpur mendatanginya.

Sekitar 70 persen warga desanya berasal dari kaum etnis minoritas. Sebagian besar petani padi dan kopi. Kadang-kadang mereka bekerja sebagai buruh harian.

Khamla Souvannasy, seorang pejabat dari Paksong, menyatakan pemerintah setempat berusaha berusaha keras untuk membantu ratusan pengungsi di gedung tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Cuaca menjadi hambatan terbesar," kata dia saat hujan lebat berjatuhan di atap gedung.

"Kami masih memerlukan kasur," kata Souvannasy. "Bencana terjadi sangat cepat. Tidak sempat bersiap-siap, tapi kami terus berusaha."

"Semua orang kehilangan segalanya, ternak, rumah kami," kata Den Even Den, seorang petani dari Xay Done Khong. "Yang tertinggal hanyalah nyawa kami."

(sab/nat)