Pada Mei lalu, parlemen Denmark melarang penutup wajah di publik, mengikuti langkah Perancis dan sejumlah negara Eropa lain untuk menegakkan nilai yang disebut sekuler dan demokratis oleh sejumlah politikus.
"Saya tak akan melepas niqab saya. Jika saya mesti melepasnya, saya ingin melakukannya karena itu adalah cerminan pilihan saya sendiri," ujarnya dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengguna niqab yang berencana protes pada 1 Agustus akan didampingi oleh perempuan Muslim yang tak mengenakan penutup wajah dan warga Denmark non-Muslim, yang sebagian besar akan menutupi wajahnya saat berdemonstrasi.
"Saya percaya Anda harus mempersatukan diri di masyarakat, Anda harus mendapatkan pendidikan dan seterusnya. Tapi saya tak berpikir mengenakan niqab berarti Anda tak bisa berinteraksi dengan nilai-nilai Denmark," kata Meryem, mahasiswa Aarhus University.
Seperti Sabina, Meryem berencana menentang hukum, tetap mengenakan niqab dan memprotes larangan.
Di bawah hukum yang berlaku, polisi diperbolehkan memerintahkan perempuan melepas penutup wajah atau meninggalkan area publik. Menteri Kehakiman Soren Pape Pilsen mengatakan petugas akan mendenda dan memerintahkan mereka pulang.
(aal)