Donald Trump Berlakukan Kembali Sanksi Ekonomi ke Iran

Reuters & AFP | CNN Indonesia
Selasa, 07 Agu 2018 15:11 WIB
Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali sanksi ekonomi ke Iran setelah membatalkan perjanjian nuklir yang ditandatangani pendahulunya Barack Obama. Sanksi ekonomi yang diterapkan kembali oleh Amerika membuat situasi ekonomi Iran memburuk dan membuat mahasiswa mulai melakukan protes seperti yang terjadi pada Desember 2017. (AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat menerapkan kembali serangkaian sanksi sepihak terhadap Iran yang sebelumnya dicabut berdasarkan kesepakatan nuklir multi-negara.

Sanksi-sanksi mulai berlaku pukul 24.01, Selasa (7/8) waktu setempat dan membatasi akses untuk mendapatkan mata uang dolar Amerika dan industri besar negara itu seperti mobil dan karpet.

Dalam perintah eksekutif yang dikeluarkan Senin (6/8), Trump mengatakan sanksi ini bertujuan memberi tekanan pada Iran di sektor finansial yang bisa menghasilkan "solusi akhir yang lengkap" atas ancaman dari Iran berupa antara lain pengembangan rudal dan kegiatan "jahat" di wilayah.
Pemerintah Iran telah mempersiapkan dampak sanksi ini sementara nilai mata uang rial telah turun 50 persen sejak Trum mengumumkan pembatalan kesepakatan yang dicapai pada 2015 itu.

Pada Mei Presiden Donald Trump mengumumkan pembatalan kesepakatan nuklir yang dicapai oleh pendahulunya Barack Obama karena dianggap terlalu menguntungkan Iran.
Presiden Donald Trump menandatangani keputusan mundur dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 8 Mei 2018 lalu.  (Reuters/Jonathan Ernst)
Trump telah merencanakan pembatalan kesepakatan ini sejak masa kampanye pilpres AS pada 2016.

Dia kembali mengecam kesepakatan ini pada Senin (6/8) dan menyebutnya "kesepakatan sepihak buruk yang tidak bisa mencapai tujuan utama yaitu menutup seluruh jalan bagi Iran dalam membuat bom nuklir."
Pembatalan sepihak ini dilakukan meski pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya yaitu Inggris, China, Perancis, Jerman, Rusia dan Uni Eropa, meminta Trump agar tidak melakukan itu.

Upaya itu sia-sia dan keputusan Trump ini memperlihatkan bahwa pemimpin AS ini lebih menyukai gaya bertindak sendiri dan tidak suka dengan kesepakatan multilateral.

Pejabat Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan kelompok ini sangat menyesali langkah Washington itu.

"Kami bertekad untuk melindungi operator ekonomi Eropa yang memiliki hubungan bisnis yang legal dengan Iran," ujarnya dalam pernyataan tertulis.
Banyak perusahaan besar Eropa mulai meninggalkan Iran karena khawatir kena hukuman berat dari AS, dan Trump memperingatkan "konsekuensi berat" bagi perusahaan atau individu yang terus melakukan bisnis dengan Iran.

Dampak penerapan kembali sanksi ini memicu ketegangan di dalam Iran melalui aksi protes dan aksi mogok kerja di berbagai kota terkait kelangkaan air bersih, harga-harga yang tinggi dan kemarahan atas sistem politik negara itu.

Presiden Donald Trump mengatakan terbuka akan kemungkinan mencapai kesepakatan yang lebih menyeluruh dengan Iran "yang menjawab serangkaian kegiatan jahat rejim itu, seperti program rudal balistik dan dukungan terhadap terorisme."

Namun Presiden Iran Hassan Rouhani menampik tawaran ini.

"Jika anda musuh dan menusuk dengan pisau, kemudian mengatakan siap berunding, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah cabut pisau itu terlebih dahulu," kata Rouhani kepada satu stasiun televisi.

"Mereka melancarkan perang psikologi terhadap bangsa Iran," kata Rouhani. "Melakukan perundingan sementara sanksi diberlakukan sangat tidak masuk akal." (yns/yns)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER