Kisah Ibu-Anak Terpisah Selama 68 Tahun Karena Perang Korea

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Minggu, 19/08/2018 19:12 WIB
Kisah Ibu-Anak Terpisah Selama 68 Tahun Karena Perang Korea Ilustrasi perang Korea. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lee Keum-som (92 tahun) mengaku terakhir kali menggendong anak laki-lakinya, Sang Chol, 68 tahun silam. Kala itu, Sang masih berusia empat tahun.

Momen tersebut menjadi kenangan pahit bagi Lee lantaran itulah terakhir kalinya ia bisa melihat Sang dan suaminya sebelum terpisah akibat perang Korea yang pecah pada 1950-1953.

Ketika itu, Lee, suami, Sang, dan anak perempuannya terpaksa melarikan diri dari kampung halaman di Provinsi Hamgyong Selatan (yang kini berada di Korea Utara) karena kondisi perang yang terus memburuk.

Bersama ratusan ribu pengungsi lainnya, keempatnya mencoba lari dari peperangan menuju ke selatan Semenanjung Korea. Nahasnya, dalam perjalanan mereka menuju tempat yang aman, Lee dan putrinya terpisah dari Sang dan suami.


Lee dan putrinya berhasil melintasi zona yang sekarang dikenal sebagai zona demiliterisasi (DMZ) yang menjadi perbatasan Korsel-Korut. Setelah beberapa waktu, Lee baru tersadar bahwa suami dan putranya masih berada di sisi lain, yakni di Korea Utara.

"Saat saya datang ke Korsel, saya menyadari bahwa saya tidak akan pernah melihat suami dan anak laki-laki saya lagi. Saya berpikir bahwa perang harus bisa benar-benar berakhir agar saya bisa bertemu mereka lagi. Karena itu, saya menyerah dan pasrah untuk bisa bertemu mereka lagi," kenang perempuan itu kepada CNN.com, Sabtu (18/8).

Lee dan anak perempuannya merupakan satu di antara puluhan ribu pengungsi Korut yang melarikan diri ke Korsel akibat perang. Mereka juga satu di antara puluhan ribu orang yang terpisah dari keluarga di Korut.

Beruntung, Lee menjadi satu di antara 93 orang yang dipilih pemerintah untuk dipertemukan kembali dengan keluarga yang terpisah perang dalam reuni yang digagas Korut-Korsel, Minggu (19/8).


Sementara itu, sedikitnya 57.000 orang lain di Korsel masih menunggu untuk dipertemukan lagi dengan keluarganya di Korut.

Mereka yang tak terpilih harus menghadapi kemungkinan untuk sama sekali tidak bertemu keluarga mereka lagi.

Lebih dari 75.000 pengungsi Korut di Korsel dikabarkan meninggal tanpa pernah bersatu lagi dengan keluarga mereka di utara.

Lee mengaku tak bisa menggambarkan perasaannya karena berkesempatan melihat wajah anak laki-lakinya itu yang kini telah berusia 71 tahun.


"Saya tidak tahu apa yang saya rasakan ini baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah ini nyata atau mimpi," imbuhnya.

Selama hidup di Korsel, Lee menikah lagi dengan seorang pria Korsel dan memiliki tujuh anak. Meski demikian, semasa hidupnya Lee mengaku terus memikirkan Sang yang ia tinggalkan.

"Banyak yang ingin saya tanyakan, di mana dia tinggal, bersama siapa dia tinggal, dan siapa yang membesarkannya karena waktu berpisah dia baru berumur empat tahun," jelasnya.

Reuni keluarga selama tiga hari itu merupakan yang pertama dilakukan dalam tiga tahun terakhir.


Pertemuan keluarga tersebut merupakan salah satu implementasi perjanjian yang disepakati Presiden Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un dalam pertemuan mereka di Panmunjom pada April lalu.


(bir)