Iran, China, Korut, Disebut Niat Intervensi Pemilu Kongres AS

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 20/08/2018 21:02 WIB
Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyebut China, Iran, dan Korea Utara berupaya ikut campur dalam pemilu paruh waktu pada 6 November mendatang. Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyebut China, Iran, dan Korea Utara berupaya ikut campur dalam pemilu paruh waktu pada 6 November mendatang. (Reuters/Joshua Roberts/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat John Bolton menyebut China, Iran, dan Korea Utara berupaya ikut campur dalam pemilihan umum paruh waktu yang akan diselenggarakan 6 November mendatang.

Layaknya Rusia yang mencampuri pemilihan presiden AS 2016 lalu, Botlon menganggap China, Iran, dan Korea Utara juga merupakan entitas yang cukup "mengkhawatirkan keamanan nasional."

"Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa ada kekhawatiran keamanan nasional tentang campur tangan China, campur tangan Iran dan Korea Utara, kami sedang mengambil langkah untuk mencoba mencegahnya," kata Bolton saat diwawancarai program ABC This Week seperti dikutip CNN, Minggu (19/8)
Pernyataan itu dilontarkan Bolton setelah Trump mengeluarkan pernyataan serupa yang menuding bahwa selama ini bukan hanya Rusia yang mencoba mencampuri urusan dalam negeri AS.


Melalui kicauannya di Twitter pada Sabtu (18/8), Trump mengatakan bahwa otoritas AS yang saat ini masih sibuk menyelidiki dugaan intervensi Rusia dalam pilpres 2016 seharusnya mulai melirik kemungkinan negara lain, seperti China.

"Para orang bodoh itu yang hanya terfokus pada dugaan intervensi Rusia seharusnya mulai melihat ke arah lain, China. Tapi pada akhirnya, jika kita semua cukup pintar, teguh, dan mempersiapkan segalanya dengan baik, kita bisa jalan terus bersama," kicau Trump.



Dalam wawancara itu, Bolton menolak menjawab ia memiliki bukti yang dapat menjelaskan campur tangan China terkait urusan dalam negeri AS di masa lalu atau tidak.

Meski begitu, dia menegaskan bahwa China bersama "ketiga negara itu adalah negara-negara yang paling AS khawatirkan" menjelang pemilu Kongres dan Senat nanti.

Bolton juga mengaku berniat mendiskusikan bukti-bukti upaya Rusia mencampuri pemilu November mendatang bersama sejumlah pejabat Kremlin saat bertemu di Jenewa pada Kamis (23/8).
"Kita lihat bagaimana respons mereka, tapi ini bukan hanya masalah berbicara dengan orang-orang Rusia," ucap Bolton. 

"Ada banyak hal yang kami lakukan yang tidak dapat kami bicarakan secara khusus, dan itu termasuk operasi siber defensif dan ofensif untuk melindungi integritas proses pemilu."

Lawatan Bolton ke Jenewa merupakan tindak lanjut pertemuan tingkat tinggi Trump dengan Presiden Vladimir Putin di Helsinki pada Juli lalu. Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengatakan selain Jenewa, Bolton juga akan berkunjng ke Israel serta Ukraina.

Menurut Sanders, rangkaian lawatan Bolton itu dilakukan sebagai upaya diplomatik AS membahas "berbagai masalah keamanan nasional penting." (has)