Yordania: Langkah AS Setop Bantuan Palestina Picu Radikalisme

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 13:05 WIB
Yordania: Langkah AS Setop Bantuan Palestina Picu Radikalisme Ilustrasi (REUTERS/Abed Omar Qusini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yordania menganggap keputusan Amerika Serikat untuk menyetop seluruh pendanaan bagi UNRWA hanya akan memicu kemunculan radikalisme dan mengancam prospek perdamaian di Timur Tengah. UNRWA sendiri adalah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membantu jutaan pengungsi Palestina.

Menteri Luar Negeri Ayman Safadi mengatakan Yordania menyesali keputusan Presiden Donald Trump tersebut. Yordania adalah salah satu sekutu AS di kawasan.

"Gangguan terhadap pendanaan UNRWA berdampak sangat berbahaya terhadap para pengungsi dan seluruh kawasan secara kemanusiaan, politik, dan keamanan," kata Safadi pada Minggu (2/9).


"Langkah AS ini hanya akan mengkonsolidasikan lingkungan keputusasaan yang pada akhirnya menciptakan suasana ketegangan lebih luas lagi. Secara poltiis, ini juga akan semakin melemahkan kredibilitas terhadap upaya perdamaian."

Kepada Reuters, Safadi mengatakan lebih dari 2 juta dari total 5,3 juta pengungsi Palestina mengandalkan dana UNWRA. Sementara itu AS merupakan pendonor terbesar organisasi tersebut dengan subangan mencapai US$350 juta pada tahun lalu.

Safadi mengatakan Yordania akan terus berupaya menggalang sumbangan untuk mengurangi krisis keuangan akut yang tengah menyerang organisasi tersebut.

Dia mengatakan Yordania dan sejumlah negara lain seperti Jepang, Uni Eropa, Swedia, dan Turki akan berusaha "menggalang dukungan politik dan keamanan" bagi UNRWA dalam pertemuan Sidang Umum PBB di new York 27 September mendatang.

Ia juga mengatakan dukungan komunitas internasional bagi UNRWA tidak terpisahkan dari pembicaraan penentuan nasib para pengungsi, terutama mengenai solusi perdamaian Israel-Palestina.

"Kami akan melakukan segala yang mungkin dilakukan untuk memastikan bahwa UNRWA mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk terus menawarkan bantuanya bagi pengungsi Palestina," ucap Safadi.

"Status pengungsi Palestina tidak ditentukan oleh satu negara tunggal, itu ditentukan berdasarkan hukum internasional dan kerane itu tidak ada negara yang dapat mengambil status itu."

Trump memutuskan menghentikan semua pendanaan bagi UNRWA pada akhir pekan lalu, setelah pada awal tahun ini dia telah lebih dulu mengurangi sekitar US$65 juta dari total US$125 bantuan AS bagi organisasi tersebut selama ini.

AS menginginkan UNRWA mereformasi dan percaya negara-negara lain harus meningkatkan kontribusinya kepada badan tersebut.

Gedung Putih juga mendukung tuduhan Israel bahwa UNRWA membuat konflik Timur Tengah abadi dengan mempertahankan ide bahwa sebagian besar warga Palestina adalah pengungsi, yang memiliki hak kembali ke rumah mereka yang kini masih dikuasai Israel.

Penyetopan bantuan AS terhadap UNRWA membuat Palestina marah. Pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas memandang langkah AS tersebut sebagai perubahan kebijakan yang bertujuan menghalangi perjuangan Palestina untuk merdeka.

Sejumlah pihak khawatir keputusan Trump ini mencerminkan perubahan kebijakan Negeri Paman Sam di Timur Tengah, termasuk sikap AS terhadap prospek perdamaian Israel-Palestina. (eks/eks)