AS Tawarkan Palestina Bentuk Konfederasi dengan Yordania

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 14:02 WIB
AS Tawarkan Palestina Bentuk Konfederasi dengan Yordania Ilustrasi bendera Palestina. (Reuters/Ammar Awad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dilaporkan menawarkan Palestina untuk membentuk konfederasi dengan Yordania. 

Tawaran itu disebut disampaikan saat pejabat senior AS untuk urusan perdamaian di Timur Tengah, Jason Greenblatt, dan penasihat senior Gedung Putih sekaligus menantu Donald Trump, Jared Kushner, bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas di Ramallah.

Abbas kemudian disebut memberi tahu tawaran AS itu kepada sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat dalam suatu pertemuan. Hagit Ofran dari Peace Now, salah satu aktivis yang hadir, mengatakan Abbas menceritakan kembali pembicaraannya dengan para pejabat AS itu.


"Dia (Abbas) memang mengatakan bahwa Kushner dan Greenblatt datang kepadanya dan bertanya 'Apakah Anda akan setuju terkait negara konfederasi dengan Yordania?'" ucap Ofran Senin (3/9).
Menurut Ofran, Abbas mempertimbangkan tawaran AS tersebut jika Israel juga masuk bagian dalam negara konfederasi itu.

"Dan dia (Abbas) berkata, 'Saya akan menyetujui konfederasi hanya dengan Yordania dan Israel," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Abbas juga mengatakan bahwa dia tidak akan mendesak sebuah solusi bagi pengungsi Palestina yang bisa "menghancurkan Israel."
Abbas, disebut Ofran, menginginkan sebuah kompromi yang disepakati kedua belah pihak.

Ofran tak menjelaskan kapan pertemuan Abbas dan para pejabat AS berlangsung. Sejak Trump memutuskan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Desember lalu, Abbas menolak bertemu pejabat Gedung Putih.

Ofran juga menyebut Abbas tak menjelaskan lebih detail mengenai tawaran bergabung dengan Yordania itu.

Tawaran pembentukan negara konfederasi Palestina-Yordania sudah pernah muncul sebelumnya. Pejabat Israel sayap kanan mendukung tawaran yang dianggap sebagai salah satu cara menghindari pengakuan status penuh negara Palestina untuk saat ini.
Selain itu, rencana penggabungan negara Palestina-Yordania juga bisa melepaskan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari tanggung jawab untuk mengakui sedikitnya 3,5 juta warga Palestina di Tepi Barat, wilayah yang kini masih dikuasai Israel.

Dikutip AFP, Ramallah mengonfirmasi pertemuan Abbas dengan para aktivis itu, tapi tidak menjelaskan topik pembicaraan, termasuk mengenai tawaran AS tersebut.

Kantor Abbas menyatakan pertemuan dengan para aktivis itu berlangsung pada Minggu (2/9), termasuk sejumlah anggota Peace Now. Pertemuan itu juga dihadiri oleh dua pejabat parlemen Israel. (has)