Satu Tewas, 25 Luka, dalam Kerusuhan di Irak

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 14:33 WIB
Satu Tewas, 25 Luka, dalam Kerusuhan di Irak Ribuan warga kota Basra, Irak, memprotes pasok air bersih yang terkontaminasi dan menyebabkan 20 ribu warga di rawat di rumah sakit. (Reuters/Alaa al-Marjani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu orang tewas dan 25 lainnya luka-luka akibat tembakan petugas keamanan Irak ke arah pengunjuk rasa di kota Basra. Demostrasi ini dilakukan lantaran air yang terpolusi tadi menyebabkan 20 ribu orang dirawat di rumah sakit. 

Wartawan AFP melaporkan petugas keamanan melepas tembakan dan gas air mata ke arah ribuan pengunjuk rasa yang melakukan aksi protes polusi air bersih di kantor pemerintah daerah Basra pada Rabu (5/9).

Aksi militer ini tidak berhasil membubarkan pengunjuk yang memprotes layanan pemerintah dan mereka membalas dengan melempar batu dan petasan ke arah petugas keamanan Irak.


Petugas keamanan kemudian menghentikan tembakan ke arah pengunjuk rasa dan mengarahkan senjata ke udara dan melempar gas air mata ke arah mereka.

"Satu pengunjuk rasa tewas dan 25 lainnya luka-luka. Beberapa dari mereka menderita luka parah," kata Mehdi al-Tamimi, kepala dewan hak asasi manusia pemerintah provinsi Basra.
Sumber-sumber medis membenarkan korban yang tewas adalah seorang pemuda.

Pasukan tambahan telah dikerahkan ke provinsi yang warganya memprotes polusi pada pasok air yang menyebabkan 20 ribu orang dirawat di rumah sakit.

Pada Selasa (4/9) enam pengunjuk rasa tewas dan lebih dari 20 orang luka-luka dalam bentrokan paling berdarah antara warga dan pasukan keamanan Irak.

Pihak berwenang mengatakan 30 anggota pasukan keamanan mengalami luka-luka dalam bentrokan itu akibat "granat dan benda terbakar" yang dilempar pengunjuk rasa.

Komandan Jamil al-Shammari mengatakan jam malam diterapkan di kota itu dan jumlah pasukan keamanan ditambah.

Utusan PBB di Irak meminta semua pihak di Basra "menahan diri" sebelum bentrokan pada Rabu itu terjadi.
Satu luka, Lima Luka dalam Protes Air Bersih di Basra, Irak. Petugas keamanan Irak melepas tembakan dengan peluru tajam ke arah pengunjuk rasa di Basra yang menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya. (Reuters/Alaa al-Marjani)
Jan Kubis mendesak pihak berwenang Irak agar "menghindari penggunaan senjata mematikan secara tidak proporsional ke arah pengunjuk rasa" di Basra.

Dia juga meminta pemerintah "melakukan penyelidikan dan meminta pertanggung jawaban pelaku bentrokan dengan kekerasan yang menyebabkan korban jiwa itu" dan "berusaha sekuat tenaga untuk menjawab tuntutan warga akan air bersih dan pasok listrik".

Pihak berwenang bertekad untuk mengambil langkah guna mengakhiri krisis kesehatan yang melanda provinsi Basra yang kaya akan minyak.
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi pada Selasa mengatakan telah memerintahkan untuk "tidak menembakkan peluru tajam ke arah pengunjuk rasa atau ke udara".

Pemimpin Syiah Moqtada Sadr mengatakan di akun Twitternya sebelum bentrokan hari Rabu itu pecah bahwa aksi protes itu "disusupi oleh pengacau".

Penembakan pengunjuk rasa yang memprotes layanan air bersih di kota Basra ini terjadi ketika Irak sedang dalam ketidakpastian politik.

Kubu politik Sadr memenangkan kursi parlemen nasional dalam jumlah besar, dan dia mencoba membentuk pemerintah dengan Abadi.

Abadi mengumumkan telah bertemu dengan anggota parlemen dari Basra yang pertama kali menghadiri sidang parlemen di Baghdad sejak pemilu bulan Mei lalu.

Dia kembali mengisyaratkan bahwa polusi air di Basra itu akan diatasi tanpa merinci langkah yang akan diambil.
Pada Juli, pemerintah Irak mengumumkan rencana bantuan darurat bernilai miliaran dolar untuk Basra dalam upaya membangun kembali infrastruktur dan layanan masyarakat seperti pasokan air bersih.

Tetapi para pengunjuk rasa ini meragukan janji dari pemerintah yang akan berakhir kekuasaannya itu sementara perundingan pembentukan pemerintah baru masih berlarut-larut. (yns/yns)