Meski tak secara langsung menuding pemerintah membayar tebusan, Sydney menganggap pembebasan para sandera selama ini diperkirakan menggunakan uang.
Sebab menurutnya, setiap negara yang membayar uang tebusan akan terus menjadi target kelompok berbasis di Filipina Selatan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walaupun Indonesia mengaku tidak bayar, mungkin uangnya tidak dari pemerintah. Namun, kalau ada kasus seperti ini, hampir selalu ada uang, cuma mungkin uangnya bukan dari pemerintah, bisa dari perusahaan (kapal yang mempekerjakan ABK)."
Sebab, pembajakan kapal dan penyanderaan ABK adalah matapencaharian Abu Sayyaf. Hal ini diamini juga oleh Direktur Eksekutif Yayasan Lingkar perdamaian Ali Fauzi Manzi.
"Akses ekonomi yang terbatas, di mana mereka tidak bisa bekerja. Nah, salah satu jalan yang diambil kelompok-kelompok ini adalah dengan menyandera. Salah satu alasan utamanya adalah faktor ekonomi, makanya mereka mencari tebusan," tuturnya.
Namun, berbeda dengan Sydney, Direktur Eksekutif Yayasan Lingkar perdamaian Ali Fauzi Manzi menganggap pemerintah Indonesia mungkin saja membebaskan para sandera tanpa tebusan.
"Sandera WNI mungkin saja bebas tanpa tebusan karena Abu Sayyaf masih lebih ramah kepada Indonesia karena mayoritas penduduk Muslim," kata adik kandung pelaku bom bali, Amrozi dan Ali Imron, itu.
Meski begitu, Ali mengatakan pembebasan sandera Abu Sayyaf juga bergantung kepiawaian bernegosiasi dengan kelompok tersebut. (rds, has/eks)