Militan Filipina Terus Culik WNI, Faktor Tebusan Berpengaruh

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 19:01 WIB
Militan Filipina Terus Culik WNI, Faktor Tebusan Berpengaruh Ilustrasi (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Institute for Policy Analyst of Conflict (IPAC) Sidney Jones menganggap uang tebusan menjadi alasan mengapa penyanderaan ABK Indonesia oleh militan Filipina di perairan rawan di kawasan Sabah, Malaysia, terus berulang.

Meski tak secara langsung menuding pemerintah membayar tebusan, Sydney menganggap pembebasan para sandera selama ini diperkirakan menggunakan uang.

Sebab menurutnya, setiap negara yang membayar uang tebusan akan terus menjadi target kelompok berbasis di Filipina Selatan itu.


"Ada satu negara Eropa, saya tidak mau sebut negara mana, mereka selalu membayar uang tebusan sehingga penculikan terhadap warga negaranya terus berulang," papar Sydney saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Jumat (21/9).

"Walaupun Indonesia mengaku tidak bayar, mungkin uangnya tidak dari pemerintah. Namun, kalau ada kasus seperti ini, hampir selalu ada uang, cuma mungkin uangnya bukan dari pemerintah, bisa dari perusahaan (kapal yang mempekerjakan ABK)."

Sebab, pembajakan kapal dan penyanderaan ABK adalah matapencaharian Abu Sayyaf. Hal ini diamini juga oleh Direktur Eksekutif Yayasan Lingkar perdamaian Ali Fauzi Manzi.

Menurut pria yang sempat berdomisili di Filipina Selatan ini, aksi penculikan kelompok Abu Sayyaf ini tidak lepas dari keterbatasan ekonomi mereka. Sehingga mereka menyandera untuk mencari tebusan.

"Akses ekonomi yang terbatas, di mana mereka tidak bisa bekerja. Nah, salah satu jalan yang diambil kelompok-kelompok ini adalah dengan menyandera. Salah satu alasan utamanya adalah faktor ekonomi, makanya mereka mencari tebusan," tuturnya.

Namun, berbeda dengan Sydney, Direktur Eksekutif Yayasan Lingkar perdamaian Ali Fauzi Manzi menganggap pemerintah Indonesia mungkin saja membebaskan para sandera tanpa tebusan.

Sebab, menurut mantan teroris itu, Indonesia masih "disegani" Abu Sayyaf ketimbang pemerintahannya sendiri, Filipina.

"Sandera WNI mungkin saja bebas tanpa tebusan karena Abu Sayyaf masih lebih ramah kepada Indonesia karena mayoritas penduduk Muslim," kata adik kandung pelaku bom bali, Amrozi dan Ali Imron, itu.

Meski begitu, Ali mengatakan pembebasan sandera Abu Sayyaf juga bergantung kepiawaian bernegosiasi dengan kelompok tersebut. (rds, has/eks)