Mahathir Sebut Malaysia Bisa Hancur di Tangan Najib

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/09/2018 20:40 WIB
Mahathir Sebut Malaysia Bisa Hancur di Tangan Najib Mahathir Mohamad (AFP PHOTO / POOL / HOW HWEE YOUNG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Mahathir Mohamad menganggap Malaysia bisa hancur jika pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Najib Razak kembali memenangkan pemilihan umum raya ke-14 pada Mei lalu.

Mahathir menganggap sistem birokrasi pemerintahan dan keuangan Malaysia rusak parah selama berada di tangan pendahulunya itu.

"Kita (Malaysia) bisa menjadi negara yang dijajah oleh orang lain. Kita bisa kehilangan pengaruh dan kekuatan kita sendiri," kata Mahathir saat berbicara di depan sedikitnya 200 diaspora Malaysia di London, Inggris, Selasa (25/9).


"Rakyat Malaysia mendukung (kami) Pakatan Harapan dan menggulingkan koalisi Barisan Nasional (pemerintahan sebelumnya) karena mereka tidak berfokus pada pembangunan dan kesejahteraan bangsa. Warga dibebani dengan masalah biaya hidup tinggi."

Tak hanya birokrasi yang rusak, Mahathir juga menilai budaya korupsi melekat di pemerintahan sebelumnya, mulai dari level tertinggi hingga terendah.

Pemerintahan Najib juga dinilai memihak Barisan Nasional, bahkan secara terang-terangan berkampanye mendukung koalisi berkuasa itu. Padahal, pemerintah mestinya bersikap netral ketika menghadapi masa pemilihan umum.

"Kesetiaan mereka tidak hanya kepada pemerintah, tapi juga untuk partai berkuasa (saat itu)," ujar Mahathir.

Mahathir mengatakan kabinetnya saat ini berada dalam keadaan defisit anggaran lantaran pendapatan tak cukup membayar utang yang diturunkan dari pemerintahan sebelumnya.

"Selain itu, kita juga kehilangan uang pinjaman, kita tidak tahu kemana seluruh uang itu pergi. Jadi, kami tidak punya uang untuk melunasi utang," tutur Mahathir seperti dikutip The Star

Demi memulihkan keuangan negara, dia menganggap tidak masalah jika pemerintah menjual sejumlah aset-aset nasional.

Dalam kesempatan itu, Mahathir juga mendorong agar para pelajar Malaysia di Inggris dan negara lainnya bisa segera menyelesaikan masa studi agar dapat membantu pemerintah membangun negara.

"Jika kita bisa mempercepat masa studi, kita bisa segera pulang dan melayani negara," katanya. (rds/eks)