Dubes AS untuk PBB Ikut Demonstrasi Desak Maduro Mundur

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/09/2018 08:22 WIB
Dubes AS untuk PBB Ikut Demonstrasi Desak Maduro Mundur Dubes AS, Nikki Haley, merapatkan barisan dengan warga Venezuela di depan markas PBB di New York untuk mendesak Presiden Nicolas Maduro mundur. (AFP Photo/Jim Watson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, merapatkan barisan dengan warga Venezuela di depan markas PBB di New York untuk mendesak Presiden Nicolas Maduro mundur.

"Kami akan berjuang untuk Venezuela dan kami akan terus melakukannya sampai Maduro pergi," teriak Haley melalui pengeras suara, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (27/9).

"Kami ingin suara lantang Anda dan saya mengatakan kepada Anda, suara AS akan sangat lantang!"
Haley kemudian bercerita bahwa beberapa waktu lalu ia mengunjungi perbatasan Venezuela dengan Kolumbia. Negara itu sudah menampung lebih dari satu juta warga Venezuela yang lari dari krisis ekonomi di negaranya.


"Yang kami lihat adalah tak ada orang dapat hidup sementara Maduro makan nasi di restoran," teriak Haley.

Di belakang Haley, warga Venezuela mengacungkan poster-poster yang salah satunya bertuliskan "SOS Venezuela" sambil berteriak, "Apa yang kami inginkan? Kebebasan!"
Salah satu pemimpin unjuk rasa, Erick Rozo, mengatakan kepada AFP, "Kami menyambut kehadiran Nikki Halet. Kami mendukung pernyataan Presiden Trump dan setiap pejabat yang menolak Nicolas Maduro."

"Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, dunia membuka matanya dan memahami krisis yang dialami warga Venezuela."

Seorang demonstran lainnya, Guimar Silva, kemudian mengatakan bahwa mereka berharap PBB dapat mengambil tindakan konkret untuk membantu mereka.

"Kami tak dapat lagi bertahan dari kemiskinan dan kelaparan. Orang-orang sekarat, tak ada obat-obatan dan makanan, dan anak-anak dan orang tua paling terkena dampaknya," tutur Silva.

[Gambas:Video CNN]

Maduro sendiri akhirnya berangkat ke New York untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB tak lama setelah Trump menyampaikan pidatonya. Ia menyebut AS ingin melakukan "agresi permanen" dan mau bertemu langsung dengan Trump.

Krisis ini menjadi sorotan beberapa tahun belakangan. Untuk pertama kalinya setelah Hugo Chavez mengambil alih kepemimpinan pada dua dekade lalu, Venezuela mengalami hiperinflasi yang bisa mencapai satu juta persen tahun ini, membuat warga sangat sulit mendapatkan kebutuhan pokok.

Sekitar 2,3 juta warga Venezuela kabur dari negaranya, sementara Maduro menyalahkan interfensi AS atas negaranya yang menyebabkan konflik semakin panas. (has/has)