Peringati Referendum, Pendukung Kemerdekaan Catalonia Demo

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 04:27 WIB
Peringati Referendum, Pendukung Kemerdekaan Catalonia Demo Demonstrasi pendukung Catalonia di Spanyol (REUTERS/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah masa pendukung pro-kemerdekaan Catalonia melakukan unjuk rasa. Mereka menghalangi jalan utama dan menduduki jalur kereta api di wilayah Catalonia, Spanyol. Protes ini dilakukan untuk memperingati satu tahun referendum.

"Semuanya dimulai pada 1 Oktober dan semuanya kembali ke 1 Oktober," kata Pemimpin Catalonia, Quim Torra dalam upacara di Sant Juli De Ramis, Catalonia Utara.

Sekitar 10 kilometer di wilayah Girona, ratusan aktivis banyak menutupi wajah mereka dengan menggunakan syal dan menduduki jalur kereta api berkecepatan tinggi sebagai aksi protes.


Berbagai jalan di Barcelona dan Lleida diblokir, seperti jalan raya AP-7, jalan selatan Barcelona, dan jalan A2 yang menghubungkan Barcelona ke Madrid.

Operator Kereta Api Spanyol, Renfe menulis cuitan di twitter bahwa layanan kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Figueres, Girona, dan Barcelona juga terputus karena jalurnya diblokir.

Renfe menuliskan bahwa sekitar tiga jam kemudian jalur itu diblokir, mereka meninggalkan jalur itu dan kereta api kembali beroperasi.

Para aktivis juga mengambil bendera Spanyol dari gedung pemerintah daerah Catalonia di Girona dan menggantikannya dengan bendera separatis merah, kuning, dan biru.

Lawan polisi 

Protes itu dilakukan oleh kelompok Komite Pertahanan untuk Republik (CDRs) yang didirikan untuk membantu tahap referendum yang dilarang tahun lalu dan sekarang menuntut dari negara Spanyol.

"Setahun yang lalu kami memilih kemerdekaan. Sekarang mari bertindak," tulis CDRs dalam cuitan twitternya.

Dalam pidatonya, Torra bahkan memuji tindakan mereka dan mengatakan bahwa mereka melakukan hal yang baik dengan memberikan tekanan.

Sejak Sabtu (30/9), Barcelona menjadi tempat kerusuhan yang mengakibatkan 24 orang terluka dan enam orang ditahan ketika kelompok separatis bentrok dengan petugas kepolisian.

Mereka mengambil bagian dalam unjuk rasa untuk melawan polisi yang memberi penghargaan terhadap rekan-rekan yang ditempatkan untuk mencegah Referendum Kemerdekaan Catalunya 2017.

Pemerintah Catalonia yang dipimpin Carles Puigdemont mendorong referendum mengenai kemerdekaan untuk wilayah tersebut meskipun dianggap illegal oleh pengadilan Spanyol.

Pemungutan suara itu dirusak oleh tindakan keras dari aparat kepolisian di tempat pemungutan suara.

Bahkan jika hal itu illegal dan tidak mengikat, sebanyak 2,3 juta orang memberikan suara mereka. Dari 5,5 juta pemilih yang berhak, sebanyak 90 persen diantaranya memilih untuk keluar dari Spanyol. Para penantang kemerdekaan sebagian besar memboikot suara.

Dalam sebuah wawancara radio, juru bicara pemerintah, Isabel Celaa mengatakan bahwa referendum itu ilegal dan tidak memiliki "konsekuensi hukum."

Namun, dirinya mengatakan intervensi polisi kadang-kadang terlalu keras untuk menghalangi pemungutan suara, dan dirinya melarang hal tersebut. Intervensi terlalu keras dari aparat kepolisian dapat merusak reputasi Spanyol di luar negeri.

Pada Oktober lalu, pemerintah Catalonia mendeklarasikan kemerdekaan sepihak. Madrid dengan cepat memecat pemerintah Catalonia dan mendorong beberapa tokoh kunci untuk melarikan diri ke luar negeri, termasuk Carles Puigdemont, namun tokoh kunci lainnya dipenjara.

Total sebanyak 13 pemimpin separatis dituduh melakukan pemberontakan. Sembilan di antaranya berada dalam tahanan pencegahan di Spanyol dan sedang menunggu proses persidangan. Sementara, empat lainnya berada di tempat pengasingan di Belgia, Skotlandia dan Swiss. (cin/eks)