Peneliti Asing Ungkap Alasan Tsunami Palu Sulit Diprediksi

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 11:56 WIB
Peneliti Asing Ungkap Alasan Tsunami Palu Sulit Diprediksi Korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ilmuwan asing menyebut bahwa gempa yang mengguncang Palu-Donggala itu tak seharusnya menimbulkan tsunami yang demikian besar. Mereka lantas memperkirakan bahwa bentuk teluk Palu memperburuk dampak tsunami pascagempa di kawasan itu.

"Pada sebagian besar kasus, tsunami dihasilkan oleh apa yang disebut gempa thrust (dorong), yang menciptakan pergeseran vertikal besar-besaran dari dasar laut," kata Baptiste Gombert, seorang ahli tektonik di departemen ilmu bumi Universitas Oxford.

Namun, tsunami Palu itu diakibatkan oleh sesar mendatar. Sesar mendatar terjadi ketika potongan-potongan kerak bumi bergerak horizontal di atas atau di bawah satu sama lain.


"Sesar strike-slip seperti ini cenderung tidak menghasilkan tsunami, karena mereka tidak mengangkat dasar laut terlalu banyak," kata Cunneen.

Ahli lain dari Australia memperkirakan gelombang besar itu diakibatkan dari pertemuan kondisi geofisika yang meningkatkan gelombang tsunami yang menyapu berbagai bangunan dan menambah korban jiwa itu.

"Tinggi gelombang setidaknya dua hingga tiga meter, kemungkinan dua kali lebih besar dari itu," jelas Jane Cunneen, seorang peneliti di Fakultas Sains dan Teknik Curtin di Universitas Bentley, di Australia Barat. Ia juga menjadi salah satu perancang sistem peringatan tsunami di Samudra Indonesia yang dibangun dibawah pengawasan PBB.

Jadi apa yang menyebabkan gelombang mematikan itu? Setidaknya tiga faktor, para ahli mengatakan kepada AFP.

Tiga faktor ini menurut Cunnen menyebabkan tsunami Palu jadi sulit diprediksi.

"Peristiwa seperti itu sangat sulit diprediksi dengan sistem peringatan tsunami kami saat ini, yang bergantung pada perkiraan cepat dari besaran gempa bumi dan lokasi," jelasnya.

1. Saluran bawah laut

3 Alasan Tsunami Palu Donggala Sulit DiprediksiFoto aerial kawasan pantai Taipa, Palu Utara, pascagempa dan tsunami (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Salah satunya adalah saluran bawah laut yang sangat panjang yang berakhir di kota Palu yang terletak di dataran rendah.

"Bentuk teluk pasti memainkan peran utama dalam memperkuat ukuran ombak," kata Anne Socquet, seorang ahli gempa di Institut Ilmu Bumi di Grenoble yang telah mempelajari kondisi seismik yang mendukung parahnya tsunami di kawasan itu.

"Teluk itu bertindak seperti corong ke mana gelombang tsunami masuk."

Saat air tsunami tiba di teluk yang menyempit dan menjadi semakin dangkal, air yang terdorong dari bawah dan tertekan dari sisi-sisi lorong tersebut pada saat yang sama.

2. Gelombang pecah dekat pantai

Bahan kedua adalah ukuran dan lokasi gempa. Gempa dengan magnitude 7,5 memang termasuk gempa besar. Sebab, gempa dengan kekuaran ini tercatat hanya terjadi beberapa kali tiap tahunnya.

Gempa yang menghantam Palu "juga (termasuk gempa yang) sangat dangkal, yang berarti (terjadi) pergeseran dasar laut yang lebih besar," kata Gombert.

Untuk membuat segalanya lebih buruk, pergeseran laut ini terjadi dekat dengan pantai sehingga jeda yang ada tak cukup untuk membuat gelombang menghilang.

3 Alasan Tsunami Palu Donggala Sulit DiprediksiKerusakan akibat tsunami di kawasan Palu, Sulawesi Tengah (REUTERS/Athit Perawongmetha)

3. Longsor bawah laut

Ketiga, diperkirakan terjadi longsor bawah laut yang akhirnya memperbesar tsunami di Palu.

"Gempa bumi mungkin menyebabkan tanah di bawah laut dekat mulut teluk, atau bahkan di dalam teluk itu sendiri," kata Cunneen, mencatat dinding-dinding tanah yang curam di jalur air.

Ini akan membantu menjelaskan mengapa ombak itu begitu besar di dekat Palu, tetapi ombak jauh lebih kecil di daerah sekitarnya. (eks/eks)